PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (20)

: Sastrawan Perempuan Terpingit dalam Sejarah Sastra Indonesia?

Djoko Saryono *

Kalau kita tarik mundur berdasarkan kemelayuan, embrio sastra Indonesia sudah tampak jelas pada paruh kedua Abad XIX. Bisa dikatakan bahwa pada akhir Abad XIX sudah publikasi karya sastra berupa cerpen, roman [novel], dan puisi yang bercitra dan bersemangat Indonesia atau minimal bisa diidentifikasi telah membayangkan keindonesiaan. Continue reading “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (20)”

PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (19)

: Sejarah Sastra Indonesia yang Maskulin?
Djoko Saryono

Gambaran ketimpangan peran gender – yaitu ketidakseimbangan hubungan peran gender maskulin dengan peran gender feminin – dalam historiografi sastra Indonesia tersebut mengakibatkan timbulnya kesan atau anggapan bahwa perempuan Indonesia tak berbakat dan cocok menjadi sastrawan Indonesia. Anggapan ini demikian meluas dalam dunia kesusastraan Indonesia. Continue reading “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (19)”

PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (18)

: Sejarah Sastra Indonesia yang Patriarki?

Djoko Saryono

Terlepas dari persoalan titimangsa atau mula sastra Indonesia, yang masih perlu didiskusikan lebih lanjut, satu kenyataan gamblang yang harus kita lihat dalam kerangkan penulisan sejarah sastra Indonesia ialah kenyataan bahwa kaum perempuan Indonesia telah berpartisipasi aktif atau proaktif dalam dunia sastra Indonesia. Continue reading “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (18)”

Bahasa »