3 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *

1. KAMPUNG PECAH KULIT

Banyak cara menghukum pada masa VOC. Keluyuran sebab hilang pekerjaan; sembarangan parkir gerobak di jalan; berbohong (utamanya kepada para meneer); tidur di bawah pohon; bahkan bila kau tanpa sengaja muntah di jalan akibat masuk angin: jelaslah kau sangat layak dijatuhi hukuman. Pukulan rotan, kerja paksa, atau dilempar ke bui selama tiga hari adalah jenis-jenis hukuman yang lumayan beradab demi menegakkan disiplin kaum inlander. Continue reading “3 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *”

4 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *

1. SILAT

Tuma Sutan Kentut Pahlawan, pada suatu malam di pesta yang ramai dan sedikit angin, putus harap atas politik etis di tanah Hindia. Demang muda itu yang selalu berpeci hitam, pemuka adat awal abad ke-20, tanpa dinyana, bersilat pada pesta malam itu dan melompat ke meja perjamuan Meneer Van Dick, lantas, dengan elegan, kentutlah ia semerdu-merdunya. Alhasil, nun sepuluh ribu tumbak tanah ulayat di kampungnya—beginilah heroisme ganjil kakekku—dirampas kongsi kebun Belanda. Continue reading “4 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *”

3 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *

1. KEMATIAN VASCO TRANA, SANG NATURALIS

Saya hikmati tangga nada terakhir simponi Beethoven nomor 9, saya terpana menatap sebingkai lukisan abad pertengahan, saya membaca seuntai soneta yang memilukan, saya menulis prosa tentang satu spesies bunga beracun yang mampu membunuh kupu-kupu dengan serbuk sarinya, saya berjalan menembus padang ilalang di seberang sepuing huma, mata saya menangkap cahaya matahari hinggap di lengkung embun sewarna cermin, awan-awan yang seperti gumpalan kapas di sayap tempua, jejak-jejak anoa pada jalan setapak berlumpur di tepi hutan, dan, pagi ini, saya melihat bulan seperti pipi halus seorang dara… **) Continue reading “3 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *”

INTI EKSPRESI PUISI ADALAH SINTAKSIS, BUKAN KATA

Ahmad Yulden Erwin

Dalam konteks ekspresi puitik, inti puisi itu bukan di kata melainkan sintkasis puitik–baik klausa maupun kalimat. Ada banyak jenis sintaksis puitik dalam teknik perpuisian dunia tergantung ars poetica yang mendasarinya, di antaranya: sintaksis puitik klasik, sintaksis puitik romantik, sintaksis puitik ekspresionistik, sintaksis puitik imajistik, sintaksis puitik impresionistik, sintkasis puitik surealistik, hingga sintaksis puitik abstrak. Setiap sintaksis puitik memiliki “ciri” tekniknya sendiri. Continue reading “INTI EKSPRESI PUISI ADALAH SINTAKSIS, BUKAN KATA”

Bahasa »