Rintih Gadis dari Balik Tirai

Ahmad Zaini *

Sayup terdengar hembusan angin malam. Gemerisiknya menimbulkan bunyi irama mendesah di tengah keheningan malam. Aku tersadar dari kantuk di malam itu. Mata penat kubuka perlahan menatap sekeliling yang hanya terlihat temaram lampu yang menyala tak sempurna. Tanganku merayap menggapai dinding yang catnya mulai mengelupas. Kasap pasir yang tak berselimut semen membuat telapak tangan sedikit tergores. Continue reading “Rintih Gadis dari Balik Tirai”

Sepotong Kue Ulang Tahun

Ahmad Zaini*

Setetes air hujan menyentuh bibir saat kuterbaring di bangku tua pada sebuah taman. Kutatap langit hitam menggumpal seakan segera tertumpah di atas bumi raya ini. Kilat bersabung di angkasa mencekamkan suasana senja. Sementara kulihat kanan kiri taman ini sudah sepi. Hanya terlihat petugas kebersihan taman sedang memunguti daun-daun yang luruh tertempa angin. Continue reading “Sepotong Kue Ulang Tahun”

Air Mata di Atas Lapak

Ahmad Zaini*
Radar Bojonegoro, 20 Okt 2011

Bekas-bekas lapak dagangan berserakan di sekitar bongkaran pasar. Papan, usuk, balok, serta bekas atap lapak porak poranda tak tentu arah. Gundukan-gundukan barang dagangan masih tercecer di setiap sudut bekas tempat jualan para pedagang. Puluhan aparat keamanan terlihat berlalu-lalang mengantisipasi agar tidak ada gerakan warga atau para pedagang yang ingin menggagalkan pembongkaran pasar yang sudah dilegalkan atau diprogramkan oleh pemerintahan setempat. Continue reading “Air Mata di Atas Lapak”

Perempuan-Perempuan Kereta

Ahmad Zaini *

Sewaktu pagi belum sempurna memasuki hari, tangan-tangan kekar para perempuan kereta menjinjing keranjang yang penuh dengan telur asin. Mereka berjalan menembus pagi buta yang dipenuhi kabut penghalang mata. Langkah mereka laksana langkah laki-laki yang kokoh menyangga beban yang berat. Ya, itulah pekerjaan sehari-hari dari perempuan-perempuan kereta yang mencari nafkah ke kota demi menyambung hidup di dunia. Continue reading “Perempuan-Perempuan Kereta”

Terompah Kyai

Ahmad Zaini *

Hening malam itu seketika buyar ketika detak-detak suara terompah kiai bergelombang membahana di setiap sudut lokasi pesantren. Alas kaki kiai menggerus jalan beraspal menuju tempat beribadah laksana derap kaki kuda yang menerjang medan perang tuk membasmi musuh-musuh. Detak-detak suara terompah kiai semakin cepat memecah keheningan akhir malam yang berudara dingin karena ingin segera sampai ke musholla. Di musholla itu kiai sudah ditunggu ratusan santrinya. Continue reading “Terompah Kyai”

Bahasa ยป