Sastra dan Nasionalisme

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Obyek semua karya sastra adalah realitas. Merupakan hasil kontemplasi dan interpretasi pengarang dengan dunia realitas di sekitarnya, baik berupa realitas sosial ataupun realitas ide. Griffith menegaskan bahwa sastra merupakan ungkapan dari pribadi yang menulisnya. Kepribadian, perasaan, respon, pandangan hidup atau keyakinan pengarang akan selalu mewarnai karya yang diciptakannya. Continue reading “Sastra dan Nasionalisme”

Samgita

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Solo, pada akhir 1960-an, kemandegan estetika tari Jawa telah membuat risau sebagian masyarakat pendukungnya. Di kalangan elite pertunjukan, lelangen bedaya dan srimpi yang merupakan simbol kejayaan raja-raja Jawa masa lalu mulai memudar. Bentuk koreografi liris yang anggun itu, telah kehilangan peran dan tak lagi diminati karena lama tak dipentaskan di kraton. Continue reading “Samgita”

Daerah

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Ingatlah Mathias Ankakari. Sebuah cerpen karya Gerson Poyk yang mengisahkan perjalanan Mathias Ankakari asal Papua, ke Jakarta. Rasa takjub memenuhi kesadaran Mathias menemukan kontras “hutan” Papua dan Jakarta. Tapi Mathias kemudian agak bertanya-tanya tentang makna “kemajuan” yang seringkali diartikan dengan peradaban berpakaian. Sebab, di klub malam yang dikunjunginya, Mathias melihat pertunjukan tari telanjang yang tak jauh beda dengan tarian pergaulan di kampungnya. Continue reading “Daerah”

Kaspar

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Bagi mereka yang mengakrabi cerita orang-orang Majus, yang dikisahkan sebagai tiga raja dari Timur dan menjadi saksi atas Hari Natal pertama (kelahiran Yesus) di dunia -nama-nama Baltasar, Melkior, dan Kaspar- tentu saja tidak asing. Mereka ini digambarkan sebagai raja-raja dari Asia, Afrika, dan Eropa. Continue reading “Kaspar”

Gandrik

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Gedung Kesenian Jakarta, 24 Agustus 2006. Butet Kartaredjasa sedang memerankan Raden Mas Suhikayatno (RMS) dalam pertunjukan Matinya Toekang Kritik karya Agus Noor. Pementasan didukung oleh Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Kuaetnika, Teater Gandrik, dan Orkes Sinten Remen, yang melibatkan para seniman seperti Djaduk Ferianto, Whani Darmawan, Ong Harry Wahyu, Clink Sugiarto, Indra Gunawan, dll. Continue reading “Gandrik”

Bahasa ยป