Balada Seorang Rendra

W.S. Rendra telah tiada. Adakah saya bisa berpaling?

Asarpin

Suatu hari saya dengar pidatonya. Suaranya menggelegar. Tangannya bagaikan kaki burung merak, tajam, menukik-menghantam.

Siang itu di salah satu galeri di Jakarta ia berpakaian serba-putih hingga tampak gagah dan berwibawa. Itulah busana yang selalu mengingatkan saya kepada sosok Bung Karno. Dan foto Rendra memang sering disandingkan dengan foto Bung Karno. Keduanya sama-sama gagah. Necis. Dan tampak plamboyan. Bahkan pidato-pidato keduanya sama-sama memukau. Continue reading “Balada Seorang Rendra”

Gie yang Sunyi

Asarpin

Dia seorang aktivis. Demikian kita menonton film Gie seraya mengenang tahun-tahun terakhir kejatuhan Bung Karno. Ada seorang anak muda, mahasiswa UI, menunjukkan bakat yang kuat sebagai aktivis sekaligus penulis. Konon, dari penanya yang paling pribadi, ia merangkai kisah para demonstran berhari-hari, yang kemudian diterbitkan jadi buku catatan harian Sho Hok Gie. Continue reading “Gie yang Sunyi”

Teks

Asarpin

Teks itu kata yang terdiri dari empat huruf. Sangat singkat. Walau demikian, kata ini kerapkali disalahmengerti atau sering membingungkan. Kalau tak membuka kamus maka sulit untuk memahami dengan baik apa yang disebut teks. Kalau ada seorang penulis mengatakan kembali kepada teks, atau jangan terlampau taat pada teks. Apa gerangan yang dimaksud? Continue reading “Teks”

Elegi untuk Penyair Tradisi

Asarpin

Di Lampung, tak banyak yang pantas disebut penyair tradisi. Dari yang tidak banyak itu, sebutlah seorang perempuan. Usianya sudah lebih setengah abad, tapi semangat dan suaranya tak pernah renta. Pernah pada suatu hari seorang teman bertanya: apa yang penting dari penyair tradisi di hari ini?

Seingatku aku tak pernah menjawab. Baru sekaranglah saya tertarik memberi komentar atas pertanyaan itu lewat telisik semi cerita ini. Continue reading “Elegi untuk Penyair Tradisi”

Buku Sastra di Negeri tanpa Pembaca

Asarpin

Sebut saja kalau negeri kita sudah terbebas dari buta huruf. Saya tak percaya kalau ada penyair yang menulis puisi tanpa pernah membaca buku puisi. Saya juga tak yakin ada penyair yang menulis prosa yang bagus tanpa bergaul dengan buku-buku prosa yang juga bagus. Sebuah karya lahir dari persentuhan dengan karya lain. dan persentuhan itu kadang intim tapi juga kadang renggang. Continue reading “Buku Sastra di Negeri tanpa Pembaca”

Bahasa ยป