Tag Archives: Cangel

Alexander Porfiryevich Borodin (1833 – 1887)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/06/alexander-porfiryevich-borodin-1833-1887/

Alexander Borodin, lahir 12 November 1833 di Saint Petersburg. Anak tidak sah dari seorang bangsawan Georgia, Luka Gedevanishvili, sedang ibunya asal Rusia, Evdokia Konstantinovna Antonova.

Sejak kecil mendapat pendidikan terbaik, termasuk pelajaran piano. Menerima gelar doktor dalam kedokteran di Akademi Medico, lantas mengejar karir di bidang kimia.

Paul van Ostaijen (1896-1928)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Paul van Ostaijen (22 Februari 1896 – 18 Maret 1928) penyair juga penulis Flemish Bergia, lahir dan meninggal di kota Antwerpen. Awal puisinya dipengaruhi aliran-aliran Ekspresionisme, Surealisme, Dadaism. Keterlibatannya dalam aktivisme Flemish selama Perang Dunia I, hingga melarikan diri ke Berlin setelah perang, bertemu dengan banyak seniman, disamping mengalami krisis mental.

Kenapa Jean-Paul Sartre tetap Eksis?

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2010/11/why-does-jean-paul-sartre-stay-exist/

Terus terang matahari terang, aku menimba kenekatan darinya. Salah satu tulisanku yang terinspirasi olehnya bertitel ?Realitas Masa Depan? di dalam buku ?Trilogi Kesadaran?, pun ke bentukan lain mewarnai jiwaku.

Johann Sebastian Bach (1685?1750)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=655

?Bach adalah semata-mata musik. Tiada literatur, tiada pernyataan kehidupan sendiri yang datang mengurangi kemurnian dari bunyi. Ia sekaligus sintese dari yang mendahuluinya, dan menjadi titik permulaan dari sesudahnya. Sekarang pun masih ada pengaruhnya terhadap musik modern. Kita bisa temukan dia lagi sampai ke konsert-konsert Stravinski dan Poulenc. Bach harus acap kali dibaca dan mungkin sekali orang belum bisa membukakan semua keindahan dari musiknya.? {Petikan pendapat J. Van Ackere, di buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}.

Kenapa Albert Camus Absurd?

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=636

Dalam bukunya ?The Rebel? yang diindonesiakan Max Arifin, terbitan Bentang 2000. Di sana aku membaca pendapatnya: “Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menolak untuk menjadi dirinya.”

Bagiku, ia sosok pelancong jauh yang tidak mudah dikibulin para pengembara sebelumnya. Jika boleh menentukan faham, merupakan jajaran sastrawan kelas wahid. Di hadapannya; filsuf, sejarawan juga kaum pelaku total menghidupi nafas kesusastraan, yang tak sekadar berindah-indah dalam penciptaan karya.