Lomba Sastra di Daerah Lestarikan Bahasa

Stevani Elisabeth
http://www.sinarharapan.co.id/

Kegiatan lomba sastra dan bahasa harus digalakkan oleh pemerintah daerah sebagai upaya melestarikan sastra dan bahasa setempat, sekaligus melestarikan kebudayaan nasional, termasuk Bahasa Indonesia. Demikian diutarakan Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Dendy Sugono pada acara puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2007, di Gedung Aula Pusat Bahasa Depdiknas, Jakarta, Kamis (8/11). Continue reading “Lomba Sastra di Daerah Lestarikan Bahasa”

Sastra dari Temu Sastrawan Indonesia

Ahda Imran
http://pr.qiandra.net.id/

KARYA sastra dan fenomena sastra sebagai perbincangan niscaya menghendaki adanya sebuah desain dari dan ke arah mana perbincangan itu hendak difokuskan, untuk sekaligus juga mengandaikan bahwa perbincangan itu akan menawarkan berbagai pemikiran serta berbagai sudut pandang atas fenomena tersebut. Artinya, sastra sebagai peristiwa perbincangan mensyaratkan betapa peristiwa itu harus berhulu dari desain pembacaan atas fenomena yang tengah terjadi, sebelum kemudian penetapan sebuah fokus terhadap fenomena itu melahirkan semacam frame tematik. Continue reading “Sastra dari Temu Sastrawan Indonesia”

Menjalin Kemesraan Sastrawan Daerah

Maria Magdalena Bhoernomo *
kr.co.id

BEBERAPA waktu lalu di Kudus ada acara “sosialisasi” sebuah buku antologi puisi dengan cover dua sisi: satu sisi berjudul “Nyanyian Sepasang Daun Waru” karya Thomas Budi Santoso (Kudus), satu sisi lagi berjudul “Dunia Bogam Bola” karya Sosiawan Leak (Solo). Penerbitnya Indonesia Tera, Magelang 2007.

Jika kita secara sembarangan memegang buku tersebut untuk membacanya tidak akan terbalik karena buku tersebut memiliki dua sisi bolak-balik. Buku tersebut agaknya bisa menjadi “barang bukti” sastra Kudus dan Solo telah lama “terlibat affair”. Continue reading “Menjalin Kemesraan Sastrawan Daerah”

Menggairahkan Sastra di Kudus

Zakki Amali
ttp://cetak.kompas.com/

Waktu terus berlari, siapa pun yang tidak mampu mengimbangi laju waktu akan tertinggal. Tertinggal oleh waktu akan menjadikan manusia sebagai obyek, bukan subyek. Padahal, untuk dapat survive, manusia harus menjadi subyek atas waktu, mengelola dan mengolah waktu agar harapan tercapai. Paradigma inilah yang akan menggairahkan kembali kehidupan sastra di Kudus. Continue reading “Menggairahkan Sastra di Kudus”

Bahasa ยป