Nyanyian Kesunyian

Denny Mizhar

Malam dengan dinginnya memeluk tubuhnya, di halaman rumah yang dulu biasa digunakan untuk bertemunya para penyair. Mereka saling mengadu argumentasi dan mendiskusikan realitas yang terjadi di sekitarnya, lalu dijadikan bahan membuat sajak-sajak ataupun esai.

Rumah yang memiliki halaman lua sebagai tempat menaruh padi dan hasil kebun ketika musim panen tiba. Tidak seperti dulu lagi, sekarang sepi dan sunyi. Continue reading “Nyanyian Kesunyian”

Pemakaman yang Bahagia

Sungging Raga
http://suaramerdeka.com/

KETIKA tak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidupnya, ketika tak ada lagi yang bisa dibanggakan setiap kali mata itu terbuka menatap dunia yang muram, lelaki itu pun bersumpah, bahwa setidak-tidaknya ia harus bisa menciptakan sesuatu yang akan memuaskannya kelak, sesuatu yang barangkali akan menjadi satu-satunya sejarah yang tercatat atas namanya. Ya, dan hal itu sudah ada di antara sepasang matanya. Diam-diam, ia ingin sekali mengakhiri hidupnya, dengan sebuah pemakaman yang bahagia. Continue reading “Pemakaman yang Bahagia”

Kejahatan Hati Nurani

Penulis: Nadine Gordimer
Penerjemah: Heru Emka
http://suaramerdeka.com/

MEREKA saling mengamati pada saat yang sama, ketika melangkah turun dari tangga Mahkamah Agung pada hari ketiga pengadilan itu. Pada saat itu, kebetulan saja para penonton datang untuk melihat si terdakwa -melihat mereka yang bakal menanggung kurungan dinding-dinding penjara karena gagasan-gagasan yang ada di kepala- telah memuaskan rasa ingin tahu, yang memiliki kepentingan khusus mengikuti peradilan itu dari hari ke hari. Mungkin dia seorang wartawan atau perwakilan kekuatan Barat yang mengamati proses peradilan-peradilan politik dalam problematika negara-negara itu bagi kebijaksanaan luar negeri, dan melobi kembali persoalan hak asasi manusia di Eropa Barat dan Amerika. Continue reading “Kejahatan Hati Nurani”

Ismael, Penjahit Hati

Ucu Agustin
http://suaramerdeka.com/

Kekasihku bilang padaku ia memerlukan aku. Maka kurawat baik-baik diriku. Dan aku berhati-hati ke mana saja pergi. Takut kalau-kalau setetes air hujan akan membunuhku.1

KARENA aku mau berpelukan selama sisa hidupku dengan orang yang kucintai, karena tak pernah kucintai seseorang sedalam itu, karena hatiku pernah teriris dan pecah, karena Ismael telah menikah dengan ombak, dan ribut angin laut tak bisa membawanya kembali ke pesisir pantai, mengirimkan lagi dalam bentuk buih yang menjelma menjadi seorang pria yang ke mana-mana selalu membawa benang halus yang terpintal tebal, Continue reading “Ismael, Penjahit Hati”

Ibu dan Tikus

Ratih Kumala *
suaramerdeka.com

TIDAK ada yang salah pada Ibu. Juga tidak ada yang salah pada tikus kecil itu. Ibu membenci tikus itu, dan kupikir kalau tikus kecil itu bisa berbicara tentu dia akan berkata bahwa dirinya juga membenci Ibu.

Suatu hari Ibu tiba-tiba menjadi lebih bersemangat dari biasanya, “Ada tikus! Kecil tapi nakal. Akan kutangkap,” ujarnya. Continue reading “Ibu dan Tikus”

Bahasa ยป