Jejak Langkah Damiri Mahmud

badanbahasa.kemdikbud.go.id

Salah seorang sastrawan yang terkenal dari Sumatera Utara adalah Damiri Mahmud. Damiri adalah putra asli Sumatera Utara. Damiri lahir di Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, tanggal 17 Januari 1945. Ia merupakan putra bungsu dari pasangan H. Mahmud Khatib dan Hj. Siti Rahmah. Pada usia 27 tahun, ia mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis yang bernama Mariani (lahir tanggal 31 Desember 1949). Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai enam orang anak, tetapi dua di antara anaknya telah meninggal dunia. Anaknya yang ada saat ini adalah Fahmi, Chairunnisa, Kurnia, dan Siti Hidayati. Dari anak-anaknya yang telah menikah, Damiri mendapat empat orang cucu. Continue reading “Jejak Langkah Damiri Mahmud”

Damiri Mahmud Tak Pernah Kehabisan Kata

Nevatuhella
Analisadaily 2 Agu 2014

Di usia 69 tahun, Damiri Mahmud masih cukup aktif menulis. Minggu, 4 Mei 2014 yang lalu, catatan budayanya muncul di Harian Analisa Medan. Sore harinya pada hari yang sama, dia memberi ceramah sastra di stasiun RRI Medan bersama sastrawan Medan, Sulaiman Sambas (sastrawan asal kota Tanjungbalai, Asahan, teman kecil Martin Alaida), Mihar Harahap (mantan dekan FKIP-UISU Medan), dan penyair Wirja Taufan. Continue reading “Damiri Mahmud Tak Pernah Kehabisan Kata”

Bokor Hutasuhut, “Penakluk Ujung Dunia”

Damiri Mahmud
harian.analisadaily.com

BOKOR Hutasuhut lahir di Balige, 2 juni 1934. Pernah Redaktur kebudayaan majalah Waktu, Medan. Sekretaris Yayasan Sastra (penerbit majalah Sastra). Sekretaris Jenderal KKPI (Konperensi Karyawan Pengarang Indonesia). Dia penanda tangan Manifes Kebudayaan. Novel-novelnya adalah Pantai Barat, Tanah Kesayangan dan Penakluk Ujung Dunia. Continue reading “Bokor Hutasuhut, “Penakluk Ujung Dunia””

Menyingkap Tumpukan Koran Medan 1919

Damiri Mahmud
Jurnal Nasional, 12 Mei 2013

BABAKAN Sastra Indonesia Modern lazim disebut baru dimulai awal 1920-an ketika roman “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli terbit tahun 1922 dan “Percikan Permenungan” karya Rustam Efendi terbit tahun 1926. Salah satu syair Rustam Efendi yang sangat terkenal adalah “Bukan Beta Bijak Berperi” sebagai kredo yang menyatakan selamat tinggal kepada syair-syair lama dan dimulainya babakan sy air-syair baru yang mengandalkan kepada imajinasi individual. Demikian bunyinya: Continue reading “Menyingkap Tumpukan Koran Medan 1919”

Bahasa ยป