TUJUAN APRESIASI SASTRA (5)

Djoko Saryono *

Dalam apresiasi sastra terjadi interaksi antara manusia-pengapresiasi dan sastra. Terjadinya interaksi ini berarti adanya perjumpaan aktif antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Adanya perjumpaan memungkinkan berlangsungnya perjamuan dan percakapan imajinatif literer antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Oleh karena itu, apresiasi sastra dapat dikatakan sebagai dunia-perjumapaan antara dunia-manusia dan dunia-kewacanaan literer. Selanjutnya, hal ini memungkinkan dibangunnya dunia-perjumpaan dan dunia-percakapan. Continue reading “TUJUAN APRESIASI SASTRA (5)”

STATUS KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (4)

Djoko Saryono *

Meskipun dapat dilakukan secara komunal artau kolektif, apresiasi sastra bekerja secara subjektif, individual, internalistik, momentan, tanpa harus perlu dipandu oleh teori tertentu, dan tak evaluatif. Hal ini berarti bahwa kehadiran apresiasi sastra di tengah-tengah dunia (penghadapan) sastra bukan sebagai ilmu. Dikatakan demikian karena ilmu justru menuntut objektivitas, kolektivitas (sebab mesti bisa diuji oleh orang lain!), rasionalitas, dipergunakannya teori tertentu, dan evaluatif atau eksplanatif. Padahal semua ini tak bisa dipenuhi oleh apresiasi sastra. Continue reading “STATUS KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (4)”

WILAYAH GARAP APRESIASI SASTRA (3)

Djoko Saryono *

Wilayah garap (jangkauan) apresiasi sastra, kritik sastra, dan penelitian sastra sering rumpang dan berbenturan. Sering ditemui tulisan-tulisan yang disebut apresiasi sastra ternyata menggarap wilayah kritik sastra. Demikian juga sering kita lihat tulisan-tulisan yang disebut kritik sastra ternyata menggarap wilayah apresiasi sastra. Penelitian sastra pun sering menggarap wilayah kritik sastra dan apresiasi sastra. Bahkan kadang-kadang kita kesulitan membedakan apakah suatu tulisan itu penelitian sastra, kritik sastra, apresiasi sastra atau esai sastra. Continue reading “WILAYAH GARAP APRESIASI SASTRA (3)”

POKOK PERSOALAN APRESIASI SASTRA (2)

Djoko Saryono *

Kita tahu, sastra menjadi pokok persoalan (subject matter) berbagai kegiatan yang bersangkutan dengan sastra. Bahkan bersangkutan juga dengan kegiatan di luar sastra. Disiplin ilmu sejarah, sosiologi, antropologi, dan keagamaan sering menjadikan sastra sebagai pokok persoalan. Sebagai contoh, ketika hendak melihat perubahan-perubahan yang terdapat dalam pribadi-pribadi masyarakat Jawa, Niels Mulder menganalisis beberapa novel Indonesia yang kuat warna kejawaannya. Hal ini Continue reading “POKOK PERSOALAN APRESIASI SASTRA (2)”

MAKNA APRESIASI SASTRA (1)

Djoko Saryono *

Menurut hemat saya, secara operasional apresiasi sastra dapat dimaknai sebagai proses (kegiatan) pengindahan, penikmatan, penjiwaan, dan penghayatan karya sastra secara individual dan momentan, subjektif dan eksistensial, rohaniah dan budiah, khusuk dan kafah, dan intensif dan total supaya memperoleh sesuatu daripadanya sehingga tumbuh, berkembang, dan terpiara kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra. Continue reading “MAKNA APRESIASI SASTRA (1)”

Bahasa ยป