Nurel Javissyarqi
VII
Bagian ini menuruti angka ganjil VII, sebagai letak pemberhentian atas ketaksesuaianku dengan Tardji. Yang bermula igauannya bahwa Tuhan berimajinasi, bermimpi, hingga menggugah diriku mendatangi:
“Jika tidak satu pun kritikus dapat memberikan penilaian atau pemahaman yang meyakinkan atau malah hanya sekadar komentar asal bunyi atau lip service saja, maka pengarangnya harus angkat bicara. Continue reading “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)”
