Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)

Nurel Javissyarqi

II

Sebelum merantak, izinkan diriku keluarkan isi hati di sementara waktu. Sebenarnya aku belum cukup umur dan ilmu untuk mengupas hal ini. Tapi untuk menjawab esai Tardji dan kupasan para penyair yang pernah kubaca mengenai Asy Syu’ara, serasa ada angin menggegaskanku untuk menuliskan. Tentu tidak menutup ketetapan ulang di masa datang, demi penajaman makna usia pengalaman, sehingga yakin adanya, demikian tuturan prolog dari pengelana. Continue reading “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)”

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)

Nurel Javissyarqi

I

Tulisan ini tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri bertitel Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair ; orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007. Dalam tulisan itu Tardji menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut: Continue reading “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)”

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin *

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid.

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Continue reading “Puisi Sufi, Puisi Kesunyian”

MELQUIADES ITU BERNAMA PAMAN RIFKI

Dwicipta

“…Suatu hari nanti aku akan menulis buku dan aku akan memakai namamu untuk tokoh utamanya.”
“Sebuah buku seperti Pertev dan Peter?” aku bertanya, jantungku berdegup.
“Bukan, bukan buku bergambar, melainkan sebuah buku yang di dalamnya aku menuturkan ceritamu.” [Kehidupan Baru, hal 422]

Osman mengenang percakapannya dengan paman Rifki itu di ujung usahanya dalam mengetahui teka-teki di balik berbagai peristiwa yang telah dialaminya. Continue reading “MELQUIADES ITU BERNAMA PAMAN RIFKI”

Bahasa »