AKAR SOSIOLOGIS MUDIK LEBARAN

Maman S Mahayana *

Catatan Pengantar: Esai ini pernah dimuat Harian Kompas, 2 September 2011 (dimuat juga dalam buku Bermain Esai, Jakarta: Tarebooks, 2018, hlm 135—138). Ketika itu manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI) masih semrawut. Rel ganda Jakarta-Surabaya belum dibangun. Begitu juga jalan tol di Pulau Jawa, baru sampai Cirebon. Jadi, problem mudik dalam tulisan ini sudah kurang relevan lagi. Meskipun demikian, konsep mudik di Indonesia berakar pada problem sosiologis hubungan kota—desa, dan tidak berkaitan dengan tradisi, sistem kepercayaan, dan mitos, sebagaimana yang dilakukan masyarakat China dan Korea. Continue reading “AKAR SOSIOLOGIS MUDIK LEBARAN”

Kritik Sosial dalam Sajak F. Rahardi

Esrom Aritonang

Bagi penggemar dan pengamat karya sastra di Indonesia, khususnya bidang puisi, nama F. Rahardi bukan nama asing lagi. Penyair ini dikenal luas pertama kali melalui “Soempah WTS” (1983). Kemudian buku kumpulan puisi kedua menyusul berjudul “Catatan Harian Sang Koruptor” (1985). Pada saat kelahiran buku kumpulan puisi kedua inilah F. Rahardi menyatakan “Proklamasi Puisinya”. Continue reading “Kritik Sosial dalam Sajak F. Rahardi”

Para Penumpang Gelap

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 12 Jan 2014

SEBUTAN “penumpang gelap” sudah tidak lagi hanya milik dunia transportasi, tapi sudah menjadi “milik” banyak dunia. Dunia, yang dalam konteks sebuah ruang sosial—yang oleh teori Bourdieu—kerap disebut field (arena). Arena, tempat berbagai dialektika proses relasi sosial terjadi, yang terstruktur, untuk kemudian membentuk apa yang disebut habitus. Dunia politik, dunia ekonomi, dunia seni, dunia sastra, dunia puisi, tentu termasuk di dalamnya. Maka, sebutan “penumpang gelap” pun bisa cocok dipakai sebagai frasa simbolik yang mencerminkan salah satu gejala dialektika sosial yang terjadi. Continue reading “Para Penumpang Gelap”

Bahasa »