Hikayat Martin Aleida

Romantisme Tahun Kekerasan


Hawe Setiawan
Pikiran Rakyat, 23 Apr 2020

DI tengah pandemi, sambil mengurung diri, saya membaca memoar Martin Aleida, Romantisme Tahun Kekerasan (2020). Tak terasa tiga hari berjalan, menjelajahi lima bab dalam 271 halaman.

Buat Anda yang belum sempat membaca buku ini, boleh kiranya saya tarik garis besarnya. Penulis muda asal Tanjung Balai, mahasiswa Akademi Sastra Multatuli, bekerja di Jakarta sebagai wartawan istana untuk Harian Rakjat pada zaman Soekarno. Menyusul heboh Gerakan 30 September 1965, sang wartawan kehilangan pekerjaan, disekap oleh tentara yang menjalankan Operasi Kalong dalam sebuah kamp konsentrasi di Jakarta.

Setelah bebas, susah-payah ia bangkit dengan identitas baru. Ia jadi pedagang kaki lima, kemudian membuka kios pakaian sambil menulis cerita pendek. Kembali ke bidang jurnalistik, ia bergabung dengan majalah Ekspres, kemudian beralih ke majalah Tempo. Ia melanglang buana, memperdalam bahasa Inggris di Georgetown University. Cerita-cerita pendeknya mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat pembaca.

Martin menemukan lagi dunia yang sangat dicintainya: kata-kata. Dengan kata-kata, ia melukiskan perjalanan hidupnya seraya menyuarakan kesaksian atas jalannya sejarah yang mempengaruhi nasibnya.

Terbitnya memoar ini turut melengkapi kesaksian atas kekerasan politik Orde Soeharto. Militerisme merebut dan melanggengkan kekuasaan dengan menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta semua organ dan simpatisannya. Peristiwa September dijadikan dalih buat memfitnah, memburu, menyekap, bahkan membunuh begitu banyak orang.

Jago Main Tikungan

Judul buku merefleksikan ironi, barangkali seperti cinta di masa kolera. Zamannya memang keras tapi si anak zaman masih sempat mereguk manisnya hidup. Ada kamp konsentrasi tapi juga ada Sri Sulasmi, gadis Solo yang bagi Martin adalah teman sehidup semati. Dalam pusaran “tahun kekerasan” ia tidak terperosok ke dalam depresi atau nekad bunuh diri. Ia tidak seperti Charles Bidien, sang pejuang kemerdekaan yang terlupakan.

Buat saya sendiri, bagian dari generasi Orde Baru sebagaimana anak Bang Martin, Romantisme Tahun Kekerasan adalah salah satu memoar terbaik setelah Guruku Orang-orang dari Pesantren karya almarhum Saifuddin Zuhri. Senang sekali saya membacanya, mungkin karena di dalamnya saya mendapatkan lukisan manusia.

Diam-diam saya iri juga terhadap cara Martin menulis. Gayanya, saya kira, bersifat Melayu, macam Abdullah bin Abdul Kadir menggubah hikayat, bahkan kadang-kadang ia bercerita seraya menyapa pembacanya dengan “Tuan-tuan”. Pengalaman hidup dituturkan tidak secara kronologis, melainkan secara siklis, dan ia bisa memulai tulisan dari mana saja, tak terkecuali dari tengah. In medias res.

Martin mendedahkan pengalaman seperti pengemudi yang jago main tikungan. Di sana-sini, selagi ia menuturkan pokok pengalaman, pembaca dibawanya menyusuri berbagai kelokan tapi bukan kelokan mendadak hingga seringkali peralihan jalan tidak begitu terasa. Pada saatnya nanti ia akan kembali pada pokok pengalaman yang pintunya telah dia buka.

Dengan cara itu ia leluasa merengkuh beragam fakta, bukan saja yang berkaitan langsung dengan pribadinya, melainkan juga yang berkaitan dengan figur-figur yang turut mewarnai hidupnya, mulai dari Njoto hingga Goenawan Mohamad, mulai dari Soekarno hingga Pramoedya Ananta Toer. Dalam tiap-tiap bab, yang merupakan esai yang rampung tapi tetap berkaitan satu sama lain, kekayaan pengalaman itu terasa betul dan ditulis dengan teknik jurnalisme sastrawi.

Berujung di Awal

Sebagaimana lazimnya memoar, Romantisme Tahun Kekerasan menemukan salah satu daya tariknya pada rincian dimensi manusiawi dari perubahan sejarah. Melekat pada benak saya, misalnya, lukisan pengalaman Martin dan Sri, sebagai pengantin baru, yang harus tidur di jembatan sebab di antara sanak dan teman mereka di Jakarta tidak ada yang sanggup menampung mereka.

Tokoh-tokoh sejarah juga ditampilkan dengan sisi manusiawinya. Saya baru tahu apa yang diucapkan oleh Presiden Soekarno kepada Perdana Menteri Chairul Saleh, sewaktu ia geram membaca hoaks suratkabar mengenai tubuh para jenderal yang terbunuh. Saya pun ikut membayangkan bagaimana Menteri Njoto berguling-guling di lantai bersama anaknya, Svet. Sanggupkah Anda membayangkan bagaimana seorang penerbit buku terkemuka menodongkan sebilah pisau lipat buatan Swiss kepada sastrawan Pramoedya Ananta Toer, ketika mereka ngotot soal besaran royalti buku?

Martin memungkas bukunya dengan memetik ucapan penyair Zawawi Imron. Kepada dua orang mahasiswi yang menjemputnya di Taman Ismail Marzuki, sang penyair memperkenalkan Martin sebagai “Gusdurian, Lekra, komunis, tapi religius”.

Itu kategori yang ruwet sekali, sebetulnya. Namun, saya kira, begitulah mestinya lukisan manusia. Celakanya, dan saya baru sadar, ketika memetik ucapan itu, Martin sebetulnya sedang menutup hikayat dengan awal pokok bahasan. Itulah upaya “memperkenalkan diri”, terutama kepada rekan-rekan Indonesia yang tidak segenerasi dengannya.

Begitulah saya mengurung diri sambil menimba pengalaman, dari seseorang yang tahu apa artinya hidup dalam kurungan.
***

https://www.facebook.com/100010949585156/posts/1086477871727189/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *