Ben Anderson dan Perkara Ejaan

Joss Wibisono *
Majalah Tempo, 28 Des 2015

Pada obituari Benedict Anderson, yang wafat di Indonesia, Tempo menyinggung berulang kali bahwa, dalam menulis, Indonesianis terkemuka ini selalu menggunakan Edjaan Suwandi (1947-1972). Oleh majalah ini, ejaan yang digunakan Ben Anderson tersebut dianggap ciri khas Ben, dan sayang tidak dikupas lebih jauh. Sesungguhnya Tempo edisi akhir tahun 2001 (halaman 82-83) telah memuat kolomnya yang ditulis dalam ejaan pra-Orba, berjudul “Beberapa Usul demi Pembebasan Bahasa Indonesia”. Bahkan bisa dikatakan, bagi Ben, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) itu tidak ada, sampai saat-saat terakhir ia tetap menggunakan Edjaan Suwandi. Continue reading “Ben Anderson dan Perkara Ejaan”

Bahasa Media Bahasa Kita

Bagja Hidayat *
Majalah Tempo, 7 Des 2015

Pada akhirnya bahasa Indonesia adalah himpunan berbagai bahasa daerah, bukan hanya bahasa Melayu yang menjadi akarnya ketika ditetapkan sebagai bahasa persatuan 87 tahun lalu. Jika dilihat dari jumlah penuturnya, bahasa Jawa dan Sunda paling banyak mempengaruhi bahasa Indonesia. Dari 6.000 lebih bahasa di dunia, jumlah penutur bahasa Jawa menempati urutan ke-11. Continue reading “Bahasa Media Bahasa Kita”

Meredam Dendam Ala Gerson Poyk (1931-2017)

Yohanes Sehandi
Majalah Kabar NTT (terbitan Kupang), edisi: 33, Juli 2017

Naluri purba manusia umumnya adalah membalas dendam, kejahatan dibalas dengan kejahatan. Gigi ganti gigi, ungkapan yang sering kita dengar. Kalau itu terjadi, maka kejahatan di muka bumi ini tidak akan pernah berakhir. Kejahatan akan terus beranak-pinak dan bercucu-cecet. Pertikaian, kerusuhan, dan peperangan di mana pun dan kapan pun, sejak zaman baheula sampai dengan zaman digital sekarang ini adalah sejarah panjang dendam kesumat umat manusia yang dibalas dengan menghalalkan segala cara. Continue reading “Meredam Dendam Ala Gerson Poyk (1931-2017)”

Bahasa »