SUREALISME DALAM PERPUISIAN AMERIKA LATIN

X.J. Kennedy, Dana Gioia
Penerjemah: Indra Tjahyadi

Surealisme merupakan salah satu revolusi artistik terbesar di abad dua puluh. Pada mulanya ia muncul pada waktu Perang Dunia I dalam sebuah olok-olok bernama gerakan “Dada”. (Dada merupakan sebutan anak-anak Perancis bagi “kuda lumping”.) Dadaisme merupakan suatu penolakan radikal atas kegilaan yang dilakukan oleh yang-menyebut-dirinya-sendiri dunia “rasional” badai era modern. Pendekatannya adalah sebuah usaha untuk mengguncang dunia agar keluar dari penghancuran tradisinya sendiri. Continue reading “SUREALISME DALAM PERPUISIAN AMERIKA LATIN”

Peringatan Kepada Penyair

Akhmad Sekhu

Dan penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwa mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwa mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya, kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (QS 26 : 224-227) Continue reading “Peringatan Kepada Penyair”

Sebuah Kemungkinan bagi Sastra Asia Tenggara

Damhuri Muhammad
Kompas, 30 Maret 2014

Harapan untuk menjadi bagian dari sastra dunia, sejak beberapa tahun belakangan, beralih-rupa menjadi keresahan dalam ranah sastra Indonesia. Banyak sastrawan mengeluh lantaran sulitnya akses untuk penerjemahan karya-karya mereka ke dalam bahasa asing. Organisasi penerbit lebih tampak berperan sebagi EO (event organizer) pameran buku ketimbang merancang program-program yang terukur, guna mengantarkan sastra Indonesia ke gerbang sastra dunia. Continue reading “Sebuah Kemungkinan bagi Sastra Asia Tenggara”

Bagaimana Situasi Perang Sastra di Indonesia? *

Viddy AD Daery **

Perang sastera yang terjadi dan semakin membesar akhir-akhir ini di Indonesia, menurut hemat saya, sangat berbeza dengan beberapa kali perang sastera yang pernah terjadi di Indonesia.

Bahkan sebelum Republik Indonesia berwujud, perang sastera telah dilancarkan oleh Lembaga Balai Pustaka yang dikendalikan pemerintahan kolonialisme Hindia Belanda, yakni, pada tahun 1920-an melancarkan perang terhadap “bacaan Liar” yakni buku-buku Melayu-Tionghoa yang ditulis oleh orang-orang Tionghoa dengan menggunakan bahasa Melayu yang kacau-balau, atau disebut “Melayu pasar” atau “Melayu Rendah”. Continue reading “Bagaimana Situasi Perang Sastra di Indonesia? *”

Linus Suryadi Sebagai Korban Kultur Jawa

F. Rahardi *

Penyair Linus Suryadi AG (3 Maret 1951- 30 Juli 1999) dalam karya maupun hidup sehari-hari adalah khas stereotip Jawa. Senang perkutut, punya banyak keris tapi takut berkelahi apalagi membunuh. Doyan tongseng kambing meskipun darahnya tinggi dan selalu nrimo. Kepenyairannya dimulai dari tahun 1971. Saat itu Yogya sedang diperintah oleh “Presiden Malioboro” Umbu Landu Paranggi. Continue reading “Linus Suryadi Sebagai Korban Kultur Jawa”

Bahasa »