Imlek untuk Harmoni Indonesia

Munawir Aziz *
solopos.com

Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi awal bagi momentum harapan. Tahun Baru Imlek 2563 pada 23 Januari 2012 merupakan momentum kasih sayang dan pengharapan, tak hanya bagi warga Tionghoa namun juga masyarakat Indonesia lintas etnis. Tahun Baru Imlek kali ini memiliki arti strategis karena merupakan momentum untuk menyegarkan kembali kasih sayang dan persaudaraan di tengah kisruh politik serta tragedi hukum. Continue reading “Imlek untuk Harmoni Indonesia”

KONSEP RUMAH DUNIA: POTONG GENERASI!

Firman Venayaksa *

Kehadiran perpustakaan sebagai tempat untuk mencari ilmu dan menggali informasi tentang pelbagai hal nampaknya memang tidak bisa disingkirkan dalam peradaban kehidupan manusia yang semakin pesat berkembang. Namun perpustakaan yang selama ini hadir ternyata hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita. Tidak menjadi barang skunder apalagi primer. Continue reading “KONSEP RUMAH DUNIA: POTONG GENERASI!”

SURGA DI TELAPAK KAKI IBU

Gola Gong

Ketika kecil, hadis yang menyebutkan “surga itu di telapak kaki ibu” terbayang-bayang terus di kepalaku. Bahkan otak kananku selalu meminta-minta untuk bisa melihatnya. Kadang aku kecil memeriksa kaki Emak, apakah surga ada di sana. Emak lalu mendongeng Si Malin Kundang yang durhaka pada ibunya, sehingga dikutuk jadi batu. Kata Emak, kalau ingin melihat surga, aku harus berbakti pada keduaorangtua; Emak dan Bapak, juga ematuhi perintah Alah serta meninggalkan larangan-Nya. Continue reading “SURGA DI TELAPAK KAKI IBU”

DONGENG GOLA GONG

Haris Firdaus

Seorang anak kecil pergi ke alun-alun. Di sana, ia melihat seorang prajurit TNI yang terjun menggunakan parasut. Hatinya berdebar, matanya berdecak. Anak kecil itu mungkin kagum dengan peristiwa yang baru saja dilihatnya. Keinginan pun muncul. Lalu ia pulang ke kampungnya. Di sana, ia temui anak-anak sebayanya. Mereka ia ajak bermain perang-perangan. Anak kecil itu ingin jadi jenderal. Continue reading “DONGENG GOLA GONG”

DARI YOGYA BANGUN TRADISI KRITIK SASTRA

Sulistiono
_Media Indonesia, 8 Mei 2010
3 Februari 2011 oleh ragajiwa

Halaman di kantor Yayasan Umar Kayam, Perum Sawit Sari i-3. Condongcatur, Sleman, Yogyakarta, tampak ramai Sabtu (1/5) malam. Mulai pukul 19.00 WIB, sebanyak 10 karya sastra diperbincangkan. Tiga kumpulan cerpen, salah satunya adalah Sepotong Bibir Paling Indah karya Agus Noor, dua buku esai, salah satunya Politik Sastra yang ditulis Saut Situmorang, dua novel, dua puisi, dan satu karya terjemahan berjudul Proses karya Franz Kafka. Continue reading “DARI YOGYA BANGUN TRADISI KRITIK SASTRA”

Bahasa »