Sikap Puisi dalam Dimensi Ruang Publik

Fransisca Dewi Ria Utari
Jurnal Nasional, 29 Maret 2009

DALAM buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat melawan kecenderungan puisi mutakhir.

Sebagai bagian dari karya seni yang diciptakan manusia, sastra tidak pernah kehilangan persediaan persoalan untuk diungkapkan. Sepanjang manusia tetap ada, sastra akan tetap muncul sebagai bagian dari perjalanan sejarah manusia. Namun sejarah juga mencatat beragam perubahan yang dilakukan manusia. Lantas apakah posisi sastra—dalam hal ini pelakunya—juga ikut berubah atau menetap. Continue reading “Sikap Puisi dalam Dimensi Ruang Publik”

Catatan Kecil untuk Teater Flamboyant

Muhammad Ridwan

Entah umur berapa saya mengenal Flamboyant. Pastinya sewaktu saya masih SD. Tak jauh dari rumah saya, tepatnya di loteng perumahan Imam Masjid Raya Al Hurriyyah Tinambung, saya sering lihat beberapa pemuda latihan seni. Kebetulan beberapa kerabat dan tetangga saya juga ikut beberapa kegiatan Flamboyant. Seperti almarhum Suharto, akrab dipanggil Atto’. Masih muda tapi lihai memainkan gitar dan piano. Dia salah satu asset Flamboyant dizamannya, tapi mati muda. Mungkin seperti almarhum Darmawi “Cecep” Mukhtar di era Flamboyant 2009 ini. Continue reading “Catatan Kecil untuk Teater Flamboyant”

Kebudayaan Lampung, ‘Api Muneh’? *

Udo Z. Karzi
Lampung Post, 29 Mei 2005

KILU mahap jama sunyin ni (maaf kepada semuanya). Saya memang sengaja membuat judul esai ini seperti ini. Dalam bahasa ibu saya, Lampung, api muneh (saya pinjam istilah ini dari si empunya kolom, Juwendra Asdiansyah) itu artinya “apa pula”. Agak sedikit nyeleneh.

Sebenarnya, ini otokritik buat saya sendiri. Syukur-syukur kalau ulun Lampung marah semua. Saya tinggal bilang, please deh! Continue reading “Kebudayaan Lampung, ‘Api Muneh’? *”

Bahasa »