Sekali lagi, Geger Radya Pustaka

Heri Priyatmoko*
http://www.jawapos.com/

RONGGOWARSITO. Sebuah nama yang menggetarkan dunia kesusastraan Jawa di abad 19. Nama itu selalu dikenang sebagai pujangga besar yang karya-karyanya tetap abadi sepanjang masa. Dari pena pujangga ampuh Keraton Kasunanan tersebut mengalir beragam karya sastra kelas berat yang sarat nilai humaniora. Setumpuk bukunya mengulas falsafah, lakon wayang, sejarah, primbon, ilmu kebatinan, kisah raja, dongeng, syair, adat kesusilaan, dan lainnya. Continue reading “Sekali lagi, Geger Radya Pustaka”

Tentang Cerpen Nirwan

Ribut Wijoto

Rentang sepuluh tahun terakhir, 1998-2007, ada kesalahan pada perkembangan eksplorasi bahasa cerpen. Bahasa diolah-maksimalkan, dicari pilihan kata paling tepat, dan kalimat diberi rima-ritme; kesemua usaha dilakukan tidak untuk memperkuat unsur cerpen. Justru sebaliknya, usaha kuat-keras tersebut, sepenuhnya untuk memperlemah potensi unsur cerpen.

Ini kesalahan fatal. Soalnya, ini kesalahan dilakukan oleh orang-orang yang justru berkompeten di bidang kesusastraan. Lebih fatal lagi, ini kesalahan diikuti oleh beragam kaum sastrawan. Ia menjadi standar nilai cerpen. Sebuah standar nilai yang membalik arah. Continue reading “Tentang Cerpen Nirwan”

SURAT DALAM KHAZANAH SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

(Bagian I)
Sesungguhnya, sudah sejak lama masyarakat Indonesia mengenal tradisi menulis surat. Para raja pada zaman kerajaan dahulu, wali-wali dan para penyebar aga-ma atau sultan-sultan ketika agama Islam menyebar dan berkembang di pelosok Nu-santara, sudah terbiasa melakukan korespondensi, baik dengan saudara atau sahabat-sahabat baiknya, maupun dengan pihak lain yang mungkin belum dikenalnya. Keda-tangan bangsa Eropa ke Nusantara, makin memperluas tradisi korespondensi mereka. Continue reading “SURAT DALAM KHAZANAH SASTRA INDONESIA”

kritikus adinan bams; petai cina, kaki lima

Hudan Hidayat

bait pertama puisi mangga dua iwan gunawan, mungkin bagi pembaca yang menghendaki suatu bahasa indah dari cara menyusun kata, dan terutama perburuan dan kombinasi atas kata kata baru dalam bentukkannya yang baru, akan tiba pada suatu kesimpulan, bahwa puisi ini biasa saja. tak ada yang istimewa dari sebuah deskripsi yang dilakukan oleh penyair itu. tapi tidak bagi saya. sebab saya meletakkan pengucapan puisi ini ke dalam suatu konteks mistik sebuah kota besar – jakarta, yang selalu penuh cerita pedih atas tiap orang miskin, setidaknya orang yang hidupnya pas pasan seperti dalam puisi iwan gunawan ini. Continue reading “kritikus adinan bams; petai cina, kaki lima”

Novel Horor dalam Visual Grafis

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Novel grafis Coraline membebaskan pembaca untuk berimajinasi lebih “liar” tentang dunia mistis yang dialami sang tokoh.

KOMIK sering kali dikelompokkan sebagai karya popular yang menghibur daripada mengedukasi. Sebaliknya, bahan bacaan seperti novel atau bahkan karya sastra dianggap mampu “merangsang” sensitivitas. Karya novel (baik yang populer ataupun yang sastra) juga memuat lebih banyak informasi dalam deretan teks yang sambung-menyambung hingga mencapai ratusan halaman buku. Continue reading “Novel Horor dalam Visual Grafis”

Bahasa ยป