Tag Archives: Hudan Hidayat

terowongan maut kohar ibrahim

http://www.facebook.com/note.php?note_id=100508807545&ref=mf

Dari Penerbit :
Novel Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati ini berkisahkan seorang anak manusia, salah seorang putera kelahiran Jakarta 1942 yang mencintai tanah tumpah darahnya, bangsanya, kebudayaannya dan tentu saja Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Namun setelah keberangkatannya pada 27 September 1965 ke Tiongkok kemudian terjadi Tragedi Nasional 1965, anak tunggal pasangan Ibrahim & Maemunah yang memiliki cita-cita dan ragam impian ini terpaksa menjadi salah seorang yang oleh mantan Presiden R.I. Gus Dur sebagai ? kaum kelayaban ? di Mancanegara alias kaum eksilan.

Kritik Sastra – Memperkukuh Sains Sastra

Hudan Hidayat
http://www.facebook.com/note.php?note_id=111127517545&__a=1

Seperti ketika seseorang mencari alamat tempat tinggal seseorang yang lain
dengan jalan berputar-putar, sains fisik pun akhirnya harus berhadapan dengan
ukuran benda-benda: ia mengoperasikan aritmatika untuk menghitung panjang dan
lebarnya alam. Atau, geometri untuk memahami ruang-ruang. Ia membuat hipotesa
tentang massa dan energi dalam sebuah benda, dan atau relasi benda-benda. Ilmuwan
bertekun di dalam laboratorium. Rumit, tetapi bukan hal yang mustahil.
Einsteins, konon, hanya mengandalkan nalar deduktifnya untuk menatap
relasi-relasi alam semesta, bukan menyandarkan diri pada teropong bintang.

Naskah-naskah Sastra

– suatu renungan untuk jurnal sastra tuhan hudan
Hudan Hidayat, Sisca
http://bs-ba.facebook.com/notes.php?id=100000033210870

kami berdua di jurnal sastra tuhan hudan, sudah menyelesaikan persoalan persoalan sekat dalam bahasa, sekat geografis, sekat ideologis, sekat juga dalam agama agama. bagi kami itu hanyalah suatu cara tumbuh, suatu lingkungan budaya dan kebudayaan berkembang, bukan suatu yang membuat, di mana kemanusiaan tampil dalam dikotomik, apalagi lebur sebagai suatu cara hidup dengan ancang ancang untuk mematikan.

Bangunan Matahari – puisi cepi sabre

Hudan Hidayat
http://www.facebook.com/people/Hudanosch-Hudan/100000033210870

Puisi ini sampai padaku seolah nyanyian ? dari repetisi suatu identitas seseorang, yang disebutnya sebagai pak tukang ? ?pak tukang pak tukang?.

Tentu saja kita sudah bersiap membaca puisi ini: dari judulnya, ?kuli bangunan?, sebuah lanskap orang miskin, lamat lamat sudah bangkit di dalam jiwa kita. Bahwa kita akan bertemu dengan kehidupan kuli bangunan yang miskin. Sebab identitas kuli bangunan, adalah suatu profesi yang jarang membuat manusia kaya. Kuli bangunan, bahkan adalah suatu pekerjaan yang tak menetap ? pekerjaan paro waktu. Dan itu: miskin.

bahasa yang termenung

Hudan Hidayat
http://www.facebook.com/people/Hudanosch-Hudan/100000033210870

bahasa yang termenung – senja di pelabuhan kecilShare
sering disebut orang, dunia puisi beda dengan dunia prosa. dalam puisi, sang penyair bertaruh pada bentuk. yakni sebuah ciptaan yang tak beralur dan tak berplot dalam tokoh tokoh pembentuk konflik (dan konflik konflik antar tokoh). mungkin, kini batasan seperti ini harus dan bisa kita terabas. seperti yang ditunjukkan dengan nyaris sempurna oleh penyair bergaya bebas rimbaud itu, yang puisinya telah saya tayangkan di jurnal sastra tuhan hudan – semusim di neraka. sebuah puisi yang, saya kira, telah mematahkan anggapan puisi tak beralur atau tak bertokoh dalam puisi. tak bersetting tempat dan waktu juga.