(Karena tanda itu meminta alamatnya)

Hudan Hidayat * Continue reading “Aayatun, bukan, Semeion”
(Karena tanda itu meminta alamatnya)

Hudan Hidayat * Continue reading “Aayatun, bukan, Semeion”
Hudan Hidayat *
“Jejak yang tak terpotong”
Jejak terpotong, bukanlah tiada berguna, karena itu, sia-sia. Haknya tetap diberikan. Sadler menukar bahasa Jerman, bahasa Yunani dipandangi Heidegger, jemarinya menarikan “The Essence Of Truth.” Seperti kita bergerak dalam “Gua Kahfi”, membuntuti cara berpikir Derrida yaitu “jejak,” yang kita imbuhi dengan “terpotong”. Continue reading “TEORI, Jejak yang tak terpotong”
Republika, 26 Sep 1999
Akulah yang Kau Panggil Malam itu
Akulah yang kau panggil malam itu, ketika hujan menderu?
Memang kulihat kau di sana, dengan payung di tangan.
Tapi apa yang di tangan kananmu?
Anak kita?
aku tak percaya:
Bukankah ia telah mati, pagi tadi? Continue reading “Puisi-Puisi Hudan Hidayat”
Hudan Hidayat
Jawa Pos, 6 Mei 2007.
Nakal” dan” santun”, “pornografi” atau “suara moral”,”gelombang syahwat” seperti kata Taufiq Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua.”
PIDATO Kebudayaan Taufik Ismail di depan Akademi Jakarta pada 2006, bukan hanya menyerang sendi sastra dan seni, tapi telah memporandakkan hidup itu sendiri. Dengan pidato itu Taufik telah meringkus kompleksitas dunia pada satu ruang. Yakni, ruang agama formal. Continue reading “SASTRA YANG HENDAK MENJAUH DARI TUHANNYA”
Hudan Hidayat *
Republika, 24 Juni 2007
NOVEL, sebagai karya sastra, harus diletakkan dalam hubungan antara Tuhan, alam dan manusia. Tuhan, sebagai Maha Kesadaran yang tak berbentuk, memerlukan semesta untuk menampakkan kehadiran-Nya. Kita bisa menandai kehadiran Tuhan melalui bentuk ciptaan-Nya. Yakni dunia dan manusia.
Tuhan memang bisa membuat apa saja, tetapi bentuk yang dibuat-Nya itu tetap mengandaikan waktu. Waktu yang memuat tahapan dalam proses yang kita nikmati atau sesali. Continue reading “‘Ruang Kebebasan’ Dalam Novel Kontemporer”