Orang-Orang Berdosa

Hudan Hidayat
http://jawabali.com/

PEMBUNUHAN-pembunuhan itu membuatku menjadi dingin. Aku jadi orang apatis. Aku tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah. Sama saja bukan? Salah atau benar semuanya ada dalam tatanan Tuhan. Direncanakan atau kebetulan, tetap saja ia adalah karya Tuhan, yang tidak bisa kita tolak. Beruntunglah orang yang ada di dalam garis Tuhan, hidup enak dan tidak berliku. Pada orang-orang seperti itu, aku tidak cemburu. Biasa saja. Tidak merendahkan atau meninggikan. Aku justru simpati dengan orang-orang yang kalah, orang-orang berdosa, yang dari awalnya sudah menempuh jalan berbeda. Continue reading “Orang-Orang Berdosa”

Kelirunya Kaum Akademisi

Hudan Hidayat
http://karyahudan.wordpress.com/

Di penghujung tahun lalu, seakan gemas menyimak arah politik dan polemik sastra yang mengeras, seorang penyair dalam esainya meminta agar kembali kepada teks. Kembali kepada teks, artinya bukanlah menunjukkan ke depan publik “inilah saya”, seperti anggapan orang dengan polemik brutal Saut-Wowok dan Goenawan-TUK. Tetapi “inilah karya saya,” seperti yang terlihat dalam tanggapan balik terhadap Taufiq Ismail cs dalam “polemik sastra pornografi”. Continue reading “Kelirunya Kaum Akademisi”

Nyanyian Matahari

Hudan Hidayat
korantempo.com

Saat Tuhan sembunyi dalam dunia yang berteka-teki, manusia melayani teka-teki Tuhan dengan kesadaran yang membelah dirinya: ia menghidupkan hatinya dan mengembangkan akalnya. Dengan akalnya ia mengolah dunia empirik. Dengan hatinya ia mengolah iman. Begitulah dua kesadaran yang membelah dunia. Sampai kesadaran itu memisahkan dirinya: menjadi sepenuhnya akal. Dan orang pun sampai pada atheisme. Continue reading “Nyanyian Matahari”

Bahasa »