Hasrat Sitor Terpenuhi di Bali

Nuryana Asmaudi
balipost.co.id

Sastrawan Angkatan 45 Sitor Situmorang secara tak terduga Selasa (2/12) lalu tampil di hadapan publik sastra di Denpasar. Ia tampil membacakan sajak, berdialog, dan beramah-tamah dengan kalangan muda di Gallery Seputih milik Made Wianta di Jl. Pandu Tanjung Bungkak, Denpasar.

SASTRAWAN yang sudah lama menetap di Paris tersebut hadir di Bali bersama istrinya — Debora. Kedatangannya ke Bali itu kemudian dimanfaatkan untuk mengadakan pertemuan dengan para seniman serta peminat sastra di Bali. Penampilan Sitor di Gallery Seputih itu terbukti memang mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan seni di Bali. Continue reading “Hasrat Sitor Terpenuhi di Bali”

Fiksi dan Fakta Sastra dalam Studi Kultural

Judul: Sastra dan Cultural Studies
Representasi Fiksi dan Fakta.
Penulis: Prof.Dr.Nyoman Kutha Ratna S.U.
Penerbit: Pustaka pelajar, 2005.
Tebal: xiii + 642 hal.
Peresensi: Nuryana Asmaudi

Beranda

”CULTURAL Studies” (CS) atau Studi Kultural (SK) merupakan disiplin ilmu yang relatif baru. Secara teoritis-akademis, CS lahir di Inggris pada 1964, untuk memberikan pemahaman terhadap kebudayaan kontemporer. Meski masih tergolong baru, ilmu ini belakangan mulai laris “dikonsumsi” kalangan intelektual Indonesia untuk bahan kajian pengetahuan terutama yang terkait dengan manusia dan kebudayaan. Continue reading “Fiksi dan Fakta Sastra dalam Studi Kultural”

Sastrawan Bali Enggan Dihimpun?

Dari Ceramah Temu Sastrawan se-Bali 2003

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

Sastrawan Bali saat ini sepertinya masih enggan atau kurang berminat untuk dihimpun dalam sebuah komunitas, perkumpulan, atau organisasi sastrawan. Selain karena rata-rata sastrawan (seniman) tersebut tidak mau dan juga “sulit diatur”, juga masih ada “trauma” melihat pengalaman atau sejarah masa lalu. Dulu, pernah bermunculan organisasi atau perhimpunan seniman di Indonesia yang akhirnya justru menjebak seniman pada kegiatan-kegiatan di luar dunia kreativitas kesenian — seperti politik praktis dan faham-golongan — yang terbukti kemudian “membunuh” masa depan kesenian dan seniman, bahkan memicu perpecahan. Continue reading “Sastrawan Bali Enggan Dihimpun?”

Paradigma Sosiologi Sastra hingga ”Jero Ketut”

Dari Diskusi Bedah Buku di Balai Bahasa Denpasar 2003

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

BUKU sosiologi sastra di Indonesia bisa dipastikan saat ini masih sangat terbatas. Begitu pula para tokoh yang punya minat dan kemampuan menulis buku tersebut masih sangat sedikit, bahkan boleh dibilang masih langka. Sekadar untuk menyebut diantara orang yang telah menulis atau menghasilkan buku sosiologi sastra di Indonesia itu misalnya Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Dr. Umar Junus, dan Dr. Faruk HT, yang karyanya bukunya sudah beredar cukup lama. Kehadiran penulis lainnya jelas masih diperlukan dan sangat ditunggu-tunggu, untuk menambah jumlah dan memperkaya khazanah literatur kajian sastra Indonesia yang selama ini masih “miskin” dan terbekalang dalam dunia kesusastraan. Continue reading “Paradigma Sosiologi Sastra hingga ”Jero Ketut””

Bahasa ยป