Pembukaan Jakarta Anniversary Festival 2009

Sjifa Amori
jurnalnasional.com

Pembukaan Jakarta Anniversary Festival 2009

“Ole”, seruan khas Spanyol itu berkali-kali membahana di teater Gedung Kesenian Jakarta. Penari bergaun panjang dengan selendang besar berwarna merah pun makin bersemangat meliukkan tubuh sambil mengentakkan kaki secara ritmis yang memperkaya warna musik perkusi yang disajikan kelompok tari Flamenco Compania Flamenco La Fragua. Continue reading “Pembukaan Jakarta Anniversary Festival 2009”

Inggit dan Klandestin Buku Banceuy

Muhidin M. Dahlan *
jawapos.com

”Saya mencari consolation, hiburan hidup dari buku-buku. Saya membaca buku-buku. Saya meninggalkan alam ini, alam jasmaniah. Saya punya pikiran, saya punya mind terbang, meninggalkan alam kemiskinan ini, masuk di dalam ”world of the mind”; berjumpa dengan orang-orang besar, dan bicara dengan orang-orang besar, bertukar pikiran dengan orang-orang besar.” (Soekarno)

Hampir semua orang tahu, naskah pleidoi Indonesia Menggugat yang ditulis dan dibacakan Soekarno di Landraad Bandung pada 18 Agustus 1930 itu mencengangkan. Continue reading “Inggit dan Klandestin Buku Banceuy”

Seekor Bebek di Tangan Puthut

Lutfi Rakhmawati*
http://www.jawapos.com/

SEEKOR bebek tidak bisa memengaruhi hidup seorang manusia, apalagi sampai membuatnya bernasib buruk seumur hidup. Namun, itulah yang dialami ”Aku”. Sejak dituduh membunuh seekor bebek di pinggir kali, dia selalu dihantui nasib buruk. Ayahnya ditangkap karena berhubungan dengan komunisme, ibunya sudah meninggal, dan bulek satu-satunya juga pergi entah ke mana.

Dia kehilangan semua yang dimilikinya, kecuali nasib buruk. Bayang-bayang sebagai anak komunis membuatnya kehilangan mimpi terbesarnya: menjadi guru. Dia kemudian tumbuh menjadi seseorang yang tertutup, spontan, misterius, dan benci pada ayahnya. Continue reading “Seekor Bebek di Tangan Puthut”

‘Sesiah’ Terakhir

M. Harya Ramdhoni Julizarsyah *
lampungpost.com

Belantara Hanibung, Tanah Bumi Sekala Bgha tahun 1289 Masehi

Sinar matahari pagi yang menembus reranting pokok Sekala menyadarkannya dari pingsan. Kekuk Suik tak tahu pasti berapa lama tak sadarkan diri di dalam belantara ini. Manakala ia siuman segalanya telah tiada. Kekasih yang dicintanya dengan sepenuh hati telah berpulang ke pangkuan dewa dewi. Kepahitan adalah yang tertinggal baginya. Hanya jerit menghiba Seperdu kekasihnya terakhir kali terdengar. Dan amarah Ibunda Ratu Sekeghumong mengguntur memenuhi Lamban Batin Ngajenguk. Disusul suara berderak leher sang kekasih dipatahkan terakot tombak empat algojo. Continue reading “‘Sesiah’ Terakhir”

Wanita yang Lahir pada Hari Kamis

Putu Nopi Suardani*

Beranda

“KENAPA kau tak juga menikah?” wanita di hadapanku menanyakan itu lagi di setiap pertemuan di meja makan. Jika ada 365 kali makan malam yang kami lalui bersama sejak wanita itu resah akan kehadiran cucu, berarti sudah lebih dari 365 kali kudengar kalimat yang isinya sama.

Pernah dalam sebuah makan malam, wanita yang sudah 30 tahun menjadi ibuku itu tak henti-hentinya menanyakan kapan aku akan menikah. Itu bermula dari undangan pernikahan sepupuku. Continue reading “Wanita yang Lahir pada Hari Kamis”

Bahasa ยป