Novel Orang-Orang Bertopeng (13)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

FATMA memang mendengar bunyi ketukan pintu di luar, tapi Fatma tidak menduga jika orang yang mengetuk pintu itu adalah Salman. Umi yang memberi tahu. Tapi kenapa Salman? Ada apa? Fatma bertanya-tanya dalam hati sembari menyisir rambut di depan cermin, selesai mandi. Ada berita pentingkah? Atau apa? Fatma jadi ingat kisah beberapa tahun lalu ketika ia menolak cinta Salman. Pemuda itu kemudian tak pernah lagi terlihat lagi batang hidungnya. Tapi, kini, Salman berani datang ke rumahnya. Ada apa? Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (13)”

SENSIBILITAS BERTRIWIKRAMA TUHAN DALAM SAJAK IBERAMSYAH BARBARY

Hudan Nur *

SAYA percaya dengan Iyut Fitra bahwa semakin banyak menulis puisi maka akan terasa semakin sulit. Timbul ketakutan terjadinya pengulangan-pengulangan, entah itu diksi, gaya dan tema. Sehingga semakin tinggi usia penyair maka puisinya akan semakin sedikit, tidak sebanyak di awal-awal kepenyairan yang masih cair dan mencari. Akibatnya produktifitas menjadi terhambat. Karenanya, boleh jadi Iberamsyah Barbary (IB) yang sebelumnya membukukan sajak-sajak situasinya yang privat ke dalam Serumpun Ayat-Ayat Tuhan juga mengalami keterbatasan produksi, di samping kesempatan untuk memuja kata-kata yang minus. Continue reading “SENSIBILITAS BERTRIWIKRAMA TUHAN DALAM SAJAK IBERAMSYAH BARBARY”

Bahasa »