Muhammad Yasir
Seribu kaki dari Jembatan Merah, Surabaya, rumah sederhana dari batu bata dan kayu beratap seng berwarna perak, tampak berkilauan dari kejauhan seperti berbilah pisau yang sengaja diampar di tepi pantai. Rumah sederhana itu milik seorang lelaki tua berumur menjelang 75 tahun. Tidaklah orang kebanyakan, bahkan tetangganya sekali pun tahu bahwa dia adalah seorang penyair yang begitu santai dan penuh pertimbangan dalam hidupnya. Dia tinggal seorang diri di rumah sederhana itu – maksudku, anak dan istrinya lebih cepat mati. Hampir sepanjang hari, dia akan duduk di ruangan pengabdiannya; ruangan yang diisi beberapa rak buku, lampu baca, sebuah mesin tik tua, dan sepasang sepatu kulit berwarna cokelat muda tanpa tali. Continue reading “Penyair Tua dan Tali Sepatunya”
