Legenda yang Selalu Hidup

Judul Buku: Stanza dan Blues
Penulis: W.S. Rendra
Penyunting: Edi Haryono
Penerbit: Bentang Pustaka Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2010
Tebal Buku: vii + 125 Halaman
Peresensi: Satmoko Budi Santoso *
lampungpost.com

BULAN Agustus adalah bulan penyair W.S. Rendra. Demikian seloroh yang bisa saja dimunculkan. Setahun yang silam, di bulan Agustus pula, penyair Rendra menjemput kematian. Kiranya penerbitan buku antologi puisi Stanza dan Blues ini pun menemukan momentumnya sekarang, yang juga sama di bulan Agustus. Continue reading “Legenda yang Selalu Hidup”

Sajak-Sajak W.S. Rendra

cetak.kompas.com

Pengantar: Mengenang Rendra (lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935, dan wafat di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009), berikut ini kami muat sejumlah karya Almarhum yang berasal dari beberapa kurun kepenyairannya. Rendra, dengan sajak-sajaknya yang kuat mengandung muatan naratif dan dramatik, menempati posisi unik dalam perpuisian Indonesia yang sarat dengan puisi lirik. Dan sebagaimana tampak pada setiap kumpulan sajak yang muncul dari dekade ke dekade sejak pertengahan 1950-an, Rendra telah menjelajahi berbagai ranah tema dan gaya ungkap, namun sekaligus intens dan konsisten menyuarakan daya hidup manusia di tengah kepungan derita dan angkara murka. Selamat membaca. (Redaksi) Continue reading “Sajak-Sajak W.S. Rendra”

Penyair Rendra

Jakob Sumardjo
newspaper.pikiran-rakyat.com

UNTUK masa-masa mendatang, Rendra akan lebih banyak dibicarakan sebagai penyair. Karya-karyanya di bidang ini lebih monumental dibandingkan dengan karya-karya drama dan fiksinya (cerpen-cerpen). Sekurang-kurangnya, ia telah menerbitkan sepuluh kumpulan puisi dalam bentuk buku. Memang sejak 1970-an dia dikenal pula sebagai orang teater. Akan tetapi, karier awalnya sebagai penyair sudah dimulai sejak 1950-an. Continue reading “Penyair Rendra”

Pilar Kesadaran Rendra

Agus R Sarjono *
newspaper.pikiran-rakyat.com

SUASANA hening dan mencekam–hingga jika saat itu ada jarum jatuh, dentingnya akan nyaring terdengar– saat Rendra membacakan sajaknya “Khotbah”, di Festival Puisi Internasional, Rotterdam. Usai pembacaan, ruang meledak oleh gemuruh tepuk tangan. “Bravo!” ucap seseorang dari barisan penonton, sambil menghampiri Rendra dan memeluknya erat di hadapan para hadirin. Orang itu bernama Pablo Neruda. Continue reading “Pilar Kesadaran Rendra”

Bahasa ยป