Burung Merak Putu Wijaya

Hikmat Gumelar *
newspaper.pikiran-rakyat.com

Dari belakang panggung, dari balik layar putih yang sepa-ruhnya memerah oleh semburan cahaya lampu, muncul seorang lelaki memakai sarung hitam, kemeja hitam, kopiah hitam, dan syal abu melilit leher. Untuk ukuran umum lelaki Indonesia, lelaki itu tinggi dan besar. Akan tetapi, saat berjalan membentuk sepatu kuda, langkahnya tampak berat. Badannya tampak rapuh, dan saat berkata, suaranya terdengar mengandung duka. Pelan dan agak serak. Continue reading “Burung Merak Putu Wijaya”

Putu Wijaya Kirim “Burung Merak” Untuk Rendra

Aditya Pradana Putra
antarajateng.com

Pementasan monolog “Burung Merak” oleh Putu Wijaya di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Kota Solo, Minggu (15/11) malam, menjadi upaya mengenang jasa sastrawan, WS Rendra. Dalam pementasan untuk memperingati 100 hari meninggalnya WS Rendra, Putu Wijaya menghidupkan semangat perjuangan Rendra di hadapan ratusan penonton yang memadati gedung kesenian tersebut. Continue reading “Putu Wijaya Kirim “Burung Merak” Untuk Rendra”

Puisi Terakhir W.S. Rendra?

detikyogyakarta.net

Sungguh besar jiwa seni dalam tubuh W.S. Rendra,ia pun tetap berkarya meski dirawat di rumah sakit karena sakit jantung koroner. Puisi terakhir Rendra menghadirkan nuansa religius yang dalam, yang mengisyaratkan kecintaan pada Sang Pencipta.

“Tuhan, aku cinta padamu?” demikian penggalan puisi yang tak diberi judul itu. Puisi terakhir ini ditulis Rendra pada 31 Juli di RS Mitra Keluarga.

Teks puisi bertulis tangan itu diperlihatkan di rumah duka di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jumat (7/8/2009). Berikut teks puisi tersebut: Continue reading “Puisi Terakhir W.S. Rendra?”

Bahasa ยป