Sarimin Maunya Jujur Malah “Ajur”

Pentas Monolog Butet Kartaredjasa

Yuyuk Sugarman
sinarharapan.co.id

YOGYAKARTA? Kartu Tanda Penduduk (KTP) bukan persoalan yang gampang. Menemukan KTP orang yang tercecer di jalan pun bisa menjadikan buntung.

Persoalan itulah yang diangkat Butet Kartaredjasa dalam monolog “Sarimin” karya Agus Noor yang dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 14 s/d 18 November, pukul 20.00 WIB. Penampilan Butet ini merupakan bagian dari Art Summit Indonesia V 2007.

Sarimin, nama ini lekat dengan topeng monyet. Jika Anda di jalan menemui orang yang tengah memikul peralatan dan di pundaknya bertengger seekor monyet, tak salah lagi itulah Sarimin. Sejatinya, Sarimin adalah nama monyet itu sendiri. Namun nama itu juga melekat pada si tukang topeng monyet keliling.

Nasib Sarimin yang telah 47 tahun menggeluti dunia topeng monyet tak beranjak baik. Nasibnya bahkan bertambah buruk setelah menemukan sebuah KTP yang tercecer dan berhadapan dengan polisi. Sebagai seorang yang lugu dan jujur, ia ingin mengembalikan KTP itu kepada pemiliknya. Karena kebingungan, ia lantas pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan KTP, dengan pemikiran nantinya yang mengembalikan KTP itu adalah pak polisi.

Apa lacur, justru di kantor polisi itulah nasib Sarimin apes. Selain disuruh menunggu lama-meski hanya untuk melaporkan dan menyerahkan KTP orang penting yang tercecer-juga nyatanya Sarimin malah dituduh mencuri dan dijebloskan ke penjara. Niat baiknya untuk tertib hukum malah membuatnya terperosok dalam penjara dan terancam pasal-pasal tuntutan yang mematikan nasibnya. Ia maunya bersikap jujur tapi malah ajur (hancur).

Ya Sarimin. Ia lebih percaya pada monyet dan malahan belajar dari monyet. Ilmu kebajikan dari monyet. Dan belajar “ilmu munyuk” itu selalu ada maknanya. Ia, misalnya, makan pisang. Pisang adalah buah yang murah. Karena itu sebagai manusia harus pemurah, kata Sarimin yang diperankan Butet.

Tak hanya itu, pisang bukanlah pohon yang egois, tapi justru egaliter dan tidak seperti pohon beringin yang akarnya ke mana-mana sehingga bisa membikin mati tanaman lain. “Pisang membiarkan anak-anaknya tumbuh dan baru mati setelah berbuah. Artinya kita harus selalu berbuat kebaikan,” kata Sarimin.

Itulah gambaran singkat cerita monolog Sarimin yang cenderung mengangkat tema seputar hukum. Menurut pengakuan Butet, dirinya bersama Agus Noor mengangkat persoalan hukum karena diprovokasi oleh Pradjoto, pengamat hukum perbankan.

“Pada awalnya kami agak gemetar juga karena tema hukum merupakan tema besar dan abstrak. Tema seperti itu jelas akan membawa implikasi tersendiri. Kalau tak hati-hati, kami bisa terjebak dalam lakon yang bombastis dan jargonis,” ujar Butet ketika ditemui usai latihan pementasan.

Masuk dalam Situasi

Untuk itu pula, demi menghindari agar tidak menjadi klise mengingat carut-marutnya hukum di negeri ini sudah menjadi rahasia umum, dirinya perlu berdiskusi intensif dengan Pradjoto serta praktisi hukum Luhut M Pangaribuan.

“Lewat pertemuan dan diskusi itu, kami menemukan kata kunci, ‘situasi’. Kata kunci ini kami pikir bisa menjembatani tema dengan bentuk pertunjukan, yakni kami mesti masuk ke dalam situasi bukan abstraksi,” tegas Butet. Hasilnya bisa dilihat dalam pertunjukan Sarimin ini.

Butet mengakui, memperlakukan teater dengan cara sebelumnya berdiskusi dengan para narasumber di luar dunia teater memang bukan hal baru dan bahkan sudah dilakukan para seniornya. “Saya hanya ingin mendapatkan pengalaman baru dalam proses penciptaan. Dengan spirit lintas disiplin dan lintas generasi, kemungkinan-kemungkinan artistik yang tak terduga diharapkan bisa melahirkan,” kata Butet.

Tak hanya itu yang membedakan pementasan Butet kali ini. Ia memanfaatkan khasanah teater tradisional sebagai basis penggarapan. Hal ini tampak dalam upayanya menciptakan trik-trik dan spektakel yang organik maupun pilihan gaya bertuturnya.

Berbeda dengan monolog “Matinya Toekang Kritik” garapannya tahun lalu yang mengelaborasi teknologi dan efek digital, kali ini Butet memilih kembali ke hal-hal yang bersifat organik, alamiah, ndesit (gaya pedesaan), dan terkadang spekulatif.

“Spirit dalam teater tradisional di antaranya selalu memunculkan kejutan-kejutan kecil yang penuh spekulasi. Selalu saja ada yang tidak terduga muncul di atas pangung,” ujar Butet yang kini memimpin Yayasan Bagong Kussudiardja.

Pada pementasannya kali ini, Butet tak hanya berkolaborasi dengan adiknya Djaduk Ferianto, Agus Noor, dan Ong Harry Wahyu. Ia juga melibatkan pekerja seni yang lebih muda, Marzooki yang lebih populer dengan julukan Kill The DJ sebagai “pengontrol dramatik” yang melaksanakan tugas semacam penyutradaraan.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *