Herman RN
http://sosbud.kompasiana.com/
Pembicaraan sastra ?cabul? atau ?satra kelamin? sebenarnya sudah lama heboh di Jakarta sejak beberapa karya sastra yang ditulis oleh sastrawan kekinian kerap mendeskripsikan adegan esek-esek. Bahkan, soal sastra cabul atau ada pula yang menamakannya dengan ?sastra kelamin? sempat membuat kalangan sastrawan nasional saling tuding. Sebut saja di antaranya karya-karya Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Hudan Hidayat, Eka Kurniawan, dan beberapa ?penjaga Komunitas Utan Kayu? yang suka melahirkan cerita-cerita nyentrik. Namun, lambat laun persoalan itu hening seperti ditiup angin. Bahkan, saat ini permasalahan tersebut terkesan mati atau tak dipedulikan lagi. Continue reading “Menggugat ?Cabul? dalam Sastra”