KENDARI DAN NEGOISASI DIRI *

Wan Anwar **

Perkenalan saya dengan hal ihwal Kendari masih amat terbatas. Dua kali menginjakkan kaki di Kendari (dan Raha) jelas tidak cukup untuk mengenal dan apalagi memahami Kendari (manusia, masyarakat, alam, sejarah, dan kebudayaannya). Meski demikian beberapa kenangan melekat dalam ingatan. Itu cukuplah membuat Kendari menjadi suatu tempat khusus dalam diri saya. Kenangan itu sebagian bersifat pribadi, sebagian lagi menyangkut kemasyarakatan dan kebudayaan. Continue reading “KENDARI DAN NEGOISASI DIRI *”

Wajah Kita Dalam “Negeri Daging”

Ken Sawitri

Negeri Daging (2002) adalah salah satu (dari delapan) antologi puisi Gus Mus (Ahmad Mustofa Bisri). Dikenal tidak hanya sebagai penyair, Gus Mus dikenal juga sebagai seorang ulama, cendekiawan, dan tokoh yang dihormati tidak hanya bagi umat tertentu.

Teguh mengemban amanah bahwa Islam adalah ‘rahmat bagi sekalian alam’ (rahmatan lil ‘alamin), Gus Mus mengedepankan pendekatan kasih sayang dalam setiap persoalan yang dihadapinya, dan mengkritik keras arogansi umat maupun ulama atas nama agama. Continue reading “Wajah Kita Dalam “Negeri Daging””

Mereguk Cinta di Negeri Butuni

Syaifuddin Gani

Menginjakkan kaki di Negeri Butuni selalu meninggalkan jejak yang bermakna. Negeri Butuni yang kumaksud di sini adalah Bau-bau. Secara administratif antara Buton dan Bau-bau memang berbeda, tetapi secara kultur memiliki kesamaan. Meskipun setelah pemekaran memisahkan keduanya, lahir pula “kebudayaan” yang berbeda. Bukankah setiap insan dan ruang memiliki lorong atau visi perbedaan yang merupakan keniscayaan? Kembali ke soal pengalaman saya. Continue reading “Mereguk Cinta di Negeri Butuni”

Diterjemahkan Bukan untuk Disembah

Wawan Eko Yulianto

Hasan Aspahani, penyair generasi mutakhir yang diramalkan banyak kalangan bakal (atau mungkin sudah!) berjajar dengan nama-nama serupa Sitok Srengene, Afrizal Malna, Sutardji Calzoum Bahri, berkata bahwa seorang penyair berhutang kepada bangsanya sebuah sajak terjemahan. Gampangnya, setiap penyair harus menerjemahkan sekurang-kurangnya satu sajak dari penyair berbahasa asing yang paling dia sukai. Continue reading “Diterjemahkan Bukan untuk Disembah”

Bahasa »