Dua Penyair Indonesia di Hamburg

Catatan Baca Puisi Dorothea dan Joko Pinurbo
Dami N Toda *
Kompas, 3 Feb 2002

MUNGKIN bukan kebetulan Ruang C Philoturm Universitas Hamburg bersebelahan dengan pajangan patung kepala Ernst Cassirer (1874-1945), filsuf Yahudi-Jerman Neokantianis, bekas Rektor Universitas Hamburg (1930-1933). Salah satu buku Cassirer, Esai Manusia (An Essay On Man, 1944), terkenal di Indonesia karena pernah terpilih sebagai salah satu bacaan wajib studi sastra di Fakultas Sastra.

Mungkin pula bukan kebetulan Ruang C Philoturm berlatar patung kepala Cassirer pada 22 Januari 2002 petang itu menjadi saksi pembacaan ‘esai manusia’ penyair Indonesia: Dorothea Rosa Herliany, penyair wanita terkemuka Indonesia masa kini, dan Joko Pinurbo, salah satu penyair penting pendatang tahun 1980-an. Ketika uap tanah Musim Dingin makin merapatkan semua pintu tiba kemari larik-larik suara lembut Dorothea seakan menancapkan gigi morse telegram ‘beratus teriakan kecil dalam gelombang tak berpintu’ dari lembah Gunung Tidar Magelang. Pakem pengertian budaya-barat Jerman yang selalu ngotot membeda-bedakan tiap momen dan momen menurut sistematik kelamin (laki-wanita-banci) seakan didamprat Dorothea dengan keras pada kesadaran pertobatan melihat filosofi ‘Manusia’ sebagai satu-kesatuan utuh eksistensial tanpa selalu peduli menilik ke bawah perbedaan definisi kelangkang orang pribadi.

Dampratan Dorothea hampir pasti tidak bakal terdengar di sini karena faham ‘Manusia’ telah diketul-ketul ke dalam ‘telinga’ (das Ohr), ‘mata’ (das Auge), ‘nalar’ (die Vernunft) dan ‘rasa’ (das Gefuhl) di-kelamin-kan: koteka “das” untuk kelamin banci, “die” untuk kelamin wanita, koteka “der” untuk kelamin laki-laki. Mata publikum yang tengah menonton Dorothea di pentas pun ‘logis’ saja men-diskriminasi-kannya berdasarkan peralatan kelamin, dan bukan sebagai ‘puisi manusia’ utuh yang dijudul esai manusia oleh Cassirer. Yah! Membebaskan filosofi “Manusia” dari polarisasi jenis kelamin ternyata sama fatal ‘membebaskan’ faham/citra Allah, Setan atau Malaikat dari “kelamin”!

Dalam suatu wawancara Dorothea pernah menegaskan: “…dalam mencipta saya bebaskan diri dari tempurung jender. Saya tidak sedang menjadi perempuan atau lelaki. Tidak pernah ingin peduli identitas seksual.” (Suara Pembaruan, 11/11/2001). Di Hamburg petang itu penegasan serupa terlontar dalam jawaban bersirat serupa, ujarnya: “… ketika sedang berada di dalam rumah saya bahagia menikmati peran menjadi ibu penuh kasih untuk anak-anak saya dan istri penuh kasih pada suami saya, tetapi di luar rumah saya utuh bebas menjadi manusia diri sendiri.” Ucapan Dorothea mengisyaratkan kesadaran eksistensial membedakan diri manusia (sebagai ‘kita’ sesama) dan diri pribadi terlahir “wanita” (sebagai ‘orang’) dalam peran biologis. Dalam keutuhan diri sebagai manusia persoalan diri terlahir laki atau perempuan bukan soal persamaan hak. Puisi Dorothea pun tidak sedang menjadi perempuan atau lelaki.

Menilik puisi Dorothea: Perempuan itu kunamakan Ibu, Buku Harian Perkawinan, Nikah Bebatuan, Telegram Gelap Persetubuhan, Cincin Kawin, dan lain-lain di mata saya terlihat kejujuran diksi membebaskan otonomi penciptaan puisi dari pretensi diskriminasi kelamin. Dengan utuh tegas dia berada dalam kemanusiaan. Bahwa ia bukan sedang menciptakan (simbol) ‘puisi feminis’ dalam arti perlawanan ‘kaum’ subordinatif versus keunggulan ordinasi maskulinis, seperti model interpretasi Prof Aveling yang dicatat Prof Carle malam itu. Berpuisi seperti dia dapat sama saja ditulis manusia berkelamin laki atau wanita. Tak ada hubungan dengan poster ‘revolusi feminis’, apa lagi “perjuangan kaum”. Harga kelamin, posisi fungsional kelamin, gairah seksual, fantasi sama saja manusiawi dalam nilai kita. Betapapun tetap terdapat kesadaran kuat pengucapan metaforis sajak Cincin Kawin seperti terkutip utuh di bawah:

telah telanjur kupenggal sebagian gambar
kepalamu. wajahmu tetap tak bermulut. tak bisa kujilat
sajaksajak yang menetes dari lelehan darah itu.
dan ketika tumbuh bunga aneh, seperti ada yang
memijarkan sejarah kemanusiaan kita yang tak pernah utuh

Puisi-puisi Dorothea terlihat awas dan kritis. Tajam menukik ke dalam permenungan tanpa mudah terjerat emosi ataupun tertantang pandangan vulgar di luar. Dia hayati benar hakikat duka (keperihan) eksistensial dari realitas-realitas seputar, tetapi selalu terdapat jarak tetapi dapat dibahasakan dengan lembut.

***

LAIN lagi penampilan puisi-puisi Joko Pinurbo yang besar di dalam ‘benda-benda’ kecil melekat pada kehadiran tema sehari-hari. Dalam langgam berpuisi prosa-puitik (=puisi-prosaik) dengan amat cerdas ia menguak “celana” dan “sarung” seperti diformalkan menjadi metafor untuk judul kumpulan puisi: Celana (1999) dan Di Bawah Kibaran Sarung (2001). Bijak menjadi “manusia utuh” puitik dalam tiap milimeter gugusan ketelanjangan prosaik. Si kecil itu ternyata luar biasa merancap pukau.

Sebelum baca puisi sore itu kebetulan saya membawa Dorothea dan Joko ke galeri pelukis Ute Reichel dan berkenalan dengan penyair Irlandia Terry McDonagh. Ute menunjukkan karya dia terakhir bertema potret diri ‘telanjang’ Ute setengah badan dengan silhuet bayangan warna seakan menguap keluar. Walaupun belum tahu obsesi tema puisi Joko serupa itu di depan potret diri telanjang Ute itu berujar: “Saya ingin manusia utuh tanpa telanjang keluar dari lukisan-lukisan itu”. Terdengar filosofis dan kontras. Langsung saja mata Joko menjadi tiga seperti mata banyak puisi-puisi dia. Tidak heran kalau Prof Carle menanggapi Joko dalam pengantar baca puisi petang itu berkata: “Untuk mengerti pesan Joko dalam puisinya perlu diketahui sebanyak mungkin sajaknya dahulu, sebab ide-ide pokoknya tersebar di antara suatu kompleks tema yang luas diciptakan sebagai realita dalam puisi.”

Tidak salah tanggapan itu betapa pun bicara Prof Carle terkesan khas pendekatan rasional orang-orang akademik berbicara tentang puisi dengan alat persiapan ‘mengerti’ dan ‘perlu diketahui’ dan ‘ide-ide pokok’ segala typisch hermeneutik Gadamer. Namun kiatnya sama kira-kira tak jauh dari gugah proses kreatif Joko di depan urusan asas empiri ‘rasa’ – ‘menghayati’ dan pilihan diksi sugestif “metafor-metafor pokok” dalam harkat perpuisian.

Hingga dengan kumpulan terbaru Sajak-sajak 2001 (cetakan ke-1 Januari 2002) Joko Pinurbo terlihat berpaju deras di samping penyair penting lain Taufiq Ismail sambil menyentil Sitor Situmorang (‘tak ada bulan di atas kuburan’, sajak Loper Koran 2001) ataupun merenungi Sutardji Calzoum Bachri (Sajak Penyair Tardji 1986).

Terkesan seloroh tapi bukan seloroh. Teralur kisah tetapi bukan prosa. Puisi-puisi berjudul: Pengamen, Loper Koran, Bertelur, Atau, Antar Aku ke Kamar Mandi dan lain-lain dialur sedap tetapi menggigit sukma. Terkutip utuh contoh Sajak Antar Aku ke Kamar Mandi di bawah:

Tengah malam ia tiba-tiba terjaga, kemudian membangunkan/ Seseorang yang sedang mendengkur di sampIa takut sendirian ke kamar mandi/sebab jalan menuju kamar mandi sangat gelap dan sunyi. Jangan-jangan tubuhku nanti tak utuh lagi. // Maka kuantar kau zirah ke kamar mandi/ dengan tubuh tercantik yang masih kaumiliki./ Kau menunggu di luar saja. Ada yang harus kuselesaikan sendiri. // Kamar mandi gelap gulita. Kauraba-raba peta tubuhmu/ dan kau dengan suara: Mengapa tak juga kautemukan Aku? // menjelang pagi ia keluar dari kamar mandi/ dan Seseorang yang tadi mengantarnya sudah tak ada lagi. /Dengan wajah berseri-seri ia pulang ke ranjang,/ ia dapatkan Seseorang sedang mendengkur nyaring sekali.// Jangan-jangan dengkurMu yang bikin aku takut ke kamar mandi.’

___________________
*) Dami N Toda, pengajar Studi-studi Indonesia dan Pasifik Selatan Universitas Hamburg.
Dijumput dari: http://jokpin.blogspot.com/2010/05/dua-penyair-indonesia-di-hamburg.html