Kembalinya Alexandre Dumas

Ngarto Februana
http://www.ruangbaca.com/

Dibesarkan dalam kemiskinan, berjaya sebagai sastrawan, dan meninggal dalam kebangkrutan.

Jasad sastrawan Prancis, Alexandre Dumas, sudah dikubur lebih dari seabad silam, tapi kini ia kembali diperbincangkan. Ia meninggalkan karya yang belum selesai ditulis ketika ia meninggal pada 1870. Le Chevalier de Sainte-Hermine (The Last Cavalier), novel sejarah karya terakhir Dumas itu, sempat hilang dan ditemukan oleh Claude Schopp, ilmuwan terkemuka Prancis yang ahli mengenai Dumas. Continue reading “Kembalinya Alexandre Dumas”

Cetak Sejarah dengan Meraih Penghargaan Bergengsi

Andika Hendra M
http://www.seputar-indonesia.com/

Marie NDiaye pada awal bulan ini meraih penghargaan tertinggi sastra Prancis,Prix Goncourt. NDiaye mencetak sejarah lantaran selama 11 tahun terakhir, dia merupakan pemenang wanita satu-satunya.

PEREMPUAN 42 tahun itu meraih Prix Goncourt atas novelnya yang menceritakan persahabatan tiga wanita di Prancis dan Senegal. Novel ini dalam bahasa Prancis berjudul Trois Femmes Puissantes (Three Powerful Women). Continue reading “Cetak Sejarah dengan Meraih Penghargaan Bergengsi”

Cina, Sastra Jawa dan Oei Tjhian Hwat

Dhanu Priyo Prabowo
web.budaya-tionghoa.net

KEDATANGAN orang Cina ke Indonesia (Jawa) ternyata tidak melulu bertujuan ekonomi tetapi juga ikut memperkenalkan kebudayaannya (termasuk sastra) ke tengah-tengah pergaulan masyarakat Jawa. Melalui usaha penerjemahan sastra Cina, orang Jawa dapat berkenalan dengan nilai-nilai universal manusia tentang cinta (lewat Sam Pek Ing Tae). Continue reading “Cina, Sastra Jawa dan Oei Tjhian Hwat”

RPA Suryanto Sastroatmodjo: Kematian Terindah Pejuang Budaya

R. Toto Sugiharto

“kebudayaan berasal dari hati, bukan dari nalar” (RPA Suryanto Sastroatmodjo)

RPA (Raden Panji Anom) Suryanto Sastroatmodjo (60) terbaring di kamar kontrakannya –Jalan Nagan Lor 21, Yogyakarta, di antara berkas yang berserakan dan amben reot dengan kasur yang lapuk. Pejuang budaya itu sudah berpulang ke Pangkuan Ilahi, Selasa Kliwon, 17 Juli 2007 pukul 10.00 tiga tahun silam. Suryanto wafat dalam sunyi, ketika zaman dan situasi semakin “menyembilu hati” – ungkapan khas Chairil Anwar – ini pernah dilontarkan oleh almarhum beberapa pekan sebelum meninggal. Continue reading “RPA Suryanto Sastroatmodjo: Kematian Terindah Pejuang Budaya”

Bahasa »