Sastra dari Bahasa Yang Rapuh

Ribut Wijoto

Diam-diam, bahasa Indonesia menyimpan problem unik bagi sastra, mirip dongeng: problem kerapuhan. Sejak ditahbiskan sebagai bahasa nasional, terhitung sejak 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia makin hari semakin dewasa, dan megah. Selebihnya adalah kecemasan, kebimbangan, dan pergeseran tiada henti-henti. Penyair W. Haryanto, sarjana lulusan Sastra Indonesia Unair, ikut terlibat di dalamnya. Continue reading “Sastra dari Bahasa Yang Rapuh”

Pembaca

Hasif Amini
Kompas, 05 Nov 2003

“BAGAIMANA sebenarnya puisi bekerja atau diolah di benak pembacanya?” tanya secarik surat tanpa tanda tangan. Tergantung masing-masing pembaca, tentu, dan tergantung puisinya juga, pasti. Atau entahlah. Namun, saya teringat Abbas Kiarostami, sutradara terkemuka asal Iran itu. Continue reading “Pembaca”

DEMOKRASI TOLOL VERSI SARIDIN

Emha Ainun Nadjib
http://sudisman.blogspot.com/

Saridin bukan tidak sadar dan bukan tanpa perhitungan kenapa dia memilih nyantri ke pondoknya Sunan Kudus. Saridin itu tipe seorang murid yang cerdas dan mengerti apa yang dilakukannya.

Harap dimengerti murid itu bukan padanan kata dari siswa atau student, sebagaimana manusia zaman modern memaknainya secara tolol. Memang manusia dalam kebudayaan dan peradaban modern kerjanya selalu melawak. Mereka lucu, dan bahkan sangat lucu karena mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka lucu. Continue reading “DEMOKRASI TOLOL VERSI SARIDIN”

Bahasa ยป