Catatan Kecil untuk Teater Flamboyant

Muhammad Ridwan

Entah umur berapa saya mengenal Flamboyant. Pastinya sewaktu saya masih SD. Tak jauh dari rumah saya, tepatnya di loteng perumahan Imam Masjid Raya Al Hurriyyah Tinambung, saya sering lihat beberapa pemuda latihan seni. Kebetulan beberapa kerabat dan tetangga saya juga ikut beberapa kegiatan Flamboyant. Seperti almarhum Suharto, akrab dipanggil Atto’. Masih muda tapi lihai memainkan gitar dan piano. Dia salah satu asset Flamboyant dizamannya, tapi mati muda. Mungkin seperti almarhum Darmawi “Cecep” Mukhtar di era Flamboyant 2009 ini. Continue reading “Catatan Kecil untuk Teater Flamboyant”

Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding

Mahwi Air Tawar
cerpenkompas.wordpress.com

Bulan, selaksa celurit menggantung di dinding, bilik-bilik kandang. Segaris cahaya menelusup, rebah di halaman. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang. Terang, di belakang rumah serupa gubuk, tempat tinggal Madrusin, sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin. Cericit tikus, decak cicak, krik-jangkrik, kecipak air dari padasan. Lenguh sapi menggaung, kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun, melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak; saling berpaut. Serupa tarian rombongan seronen; beriringan, menuju arena kerapan sapi. Continue reading “Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding”

Kebudayaan Lampung, ‘Api Muneh’? *

Udo Z. Karzi
Lampung Post, 29 Mei 2005

KILU mahap jama sunyin ni (maaf kepada semuanya). Saya memang sengaja membuat judul esai ini seperti ini. Dalam bahasa ibu saya, Lampung, api muneh (saya pinjam istilah ini dari si empunya kolom, Juwendra Asdiansyah) itu artinya “apa pula”. Agak sedikit nyeleneh.

Sebenarnya, ini otokritik buat saya sendiri. Syukur-syukur kalau ulun Lampung marah semua. Saya tinggal bilang, please deh! Continue reading “Kebudayaan Lampung, ‘Api Muneh’? *”

Bahasa »