KEBUDAYAAN MENDESAIN MASA DEPAN (BAGIAN 3)

Aprinus Salam *

Kalau kita berkenan mengingat dan merefleksikan sejarah bernegara dan berbangsa, maka kebudayaan lebih banyak dibicarakan, didiskusikan, diseminarkan, daripada dipraktikkan. Maksudnya, hidup memang suatu kebudayaan. Akan tetapi, berangkat dari konsep dan pemahaman yang telah didiskusikan sebelumnya, desain politik dan ekonomi, menjadi landasan dan memegang peranan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan desain kebudayaan yang menjadi landasan berpijak dalam praktik kehidupan.

Segala sesuatunya memang kontekstual. Isu pentingnya kebudayaan telah menjadi Pelemik Kebudayaan I yang melibatkan sejumlah tokoh dan pemikir bangsa pada tahun 1920-an hingga 1930-an. Polemik itu tentang pilihan strategi kebudayaan untuk menduplikasi Barat atau mempertahankan dan mengembangkan budaya Ketimuran, budaya Nusantara. Pemikiran dari polemik tersebut terus berjalan sendiri-sendiri, dan berkembang dengan caranya masing-masing.

Yang menarik adalah berbagai kekuatan nilai (termasuk hal-hal ideologis) sebagai pendukung dan pelengkap apa yang disebut Barat dan Timur (Nusantara). Kelengkapan hal Barat antara lain modernisme, kapitalisme, rasionalisme, dan empirisisme yang kita tahu kelak (kini) menguat di Indonesia. Sementara itu, hal Timur antara lain relijiusisme (terutama Islam), nilai-nilai, ilmu, dan pengetahuan dan tradisi lokal (atau apa yang banyak disebut sebagai kearifan lokal), dan spritualisme.

Setelah Indonesia merdeka, Soekarno memimpin dan menggerakkan Indonesia dalam semangat politik untuk menata segala sesuatunya. Semangat politik Soekarto, yang kemudian juga mengusung NASAKOM, sebenarnya tidak berpijak pada semangat budaya kebangsaan. Pada masa Orde Baru, paradigma ekonomi menjadi panglima pembangunan. Kebudayaan tidak lebih sebagai asesoris seremonial yang dipertontonkan, bukan sebagai landasan berpijak.

Setelah Ode Baru runtuh, maka Indonesia masuk dalam satu periode transisi yang serba membingungkan. Desain landasan politik dan ekonomi telah gagal, tetapi alternatif desain landasan lain tidak atau belum tersedia secara utuh. Pada masa-masa itulah, kemudian, kemungkinan desain kebudayaan sempat ditoleh. Tidak dapat dihindari, kita masuk ke dalam hutan buta belantara kebudayaan. Sebagai hutan buta, maka kebudayaan seperti peta buta yang belum jelas ke mana arah, tujuan, lokasi, dan berbagai hal lain yang perlu diidentifikasi.

Sebenarnya, basis dan konsep bagaimana kebudayaan mendesain masa depan, termasuk menjawab tantangan kebudaaan yang telah dijabarkan (dalam tulisan 1 dan 2), secara ekplisit dan implisit telah diformulasikan secara sistematis dalam Pembukaan UUD ’45. Di sini, saya mengutip pembukaan UUD “45.

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berangkat dari teks pembukaan di atas, sudah jelas keberpihakan bangsa dan negara adalah prinsip perikemanusiaan, perikeadilan, perikemerdekaan, perikemakmuran, yang diorientasikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meluhurkan kemanusiaan. Hal itu demi suatu kehidupan yang memiliki daya melindungi segenap rakyat, yang dalam hal itu, sekaligus berperan penting dalam perdamaian dan ketertiban dunia.

Hal yang menjadi salah adalah bahwa hal perikeadilan dan perikemakmuran (dll.) di atas bukan sebagai cara, tetap sebagai tujuan. Untuk mendapatkan tujuan kemakmuran dan keadilan, cara-cara politik dan ekonomi menjadi dominan, sehingga yang terjadi adalah berbagai kebijakan yang memaksa (dalam kontrol militer dan waskat), kekerasan, bahkan ketidakadilan yang menyolok.

Tegasnya, untuk mendapatkan tujuan itu, negara memakai cara-cara kapitalisme, sosialisme, militerisme, dengan mengerahkan berbagai aparatus negara lainnya, hanya, dan hanya, yang katanya demi keadilan, kemakmuran, keluhuran, kemuliaan, dan sebagainya. Dalam konteks ini, negara telah melakukan kesalahan yang luar biasa.

Bahkan para kuasa yang diberi mandat kekuasaan oleh rakyat, tidak mampu membedakan antara cara dan tujuan dalam menjalankan roda kehidupan berbangsa. Bahkan, banyak pemimpin politik kita, mengalami kekacauan dalam memahami mana bangsa, mana negara, mana pemerintahan. (Bersambung ke tulisan 4).
***

*) Dr. Aprinus Salam, M. Hum., Sastrawan kelahiran Riau, 7 April 1965. Dosen FIB UGM, Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM sejak 2013, Anggota Senat Akademik UGM 2012-2016, Konsultan Ahli Dinas Kebudayaan DIY (2013-2016). Pendidikan S1, Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM (Lulus 1992), S2 Program Studi Sastra Pasca Sarjana UGM (Lulus 2002, salah satu wisudawan terbaik), S3 Program Studi Sastra (Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora, Pascasarjana FIB UGM, lulus 2010).

2 Replies to “KEBUDAYAAN MENDESAIN MASA DEPAN (BAGIAN 3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *