Esai: Gaya Tulisan yang “Bukan-Bukan”

Ahmad Naufel *
riaupos.co

Pada medio Desember 2015 hingga akhir Januari 2016, i:boekoe (Indonesia Buku) menyelenggarakan Kelas Esai dengan “guru utama” si empu arsip, Muhiddin M. Dahlan. Sebagai empu arsip, Muhiddin memiliki segudang contoh esai yang melintasi zaman ke zaman. Muhiddin, mengenalkan esai-esai zaman pra kemerdekaan hingga pasca 70 tahun Indonesia merdeka pada kami. Continue reading “Esai: Gaya Tulisan yang “Bukan-Bukan””

Mengenang BUYA HAMKA dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Ahmad Gaus
ahmadgaus.com

Terlalu gegabah menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen. – HB Jassin.
(Berikut adalah esai untuk mengenang Buya Hamka yang wafat pada tanggal 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun. Beliau almarhum adalah seorang ulama dan sekaligus sastrawan besar yang dimiliki bangsa kita. Selamat membaca). Continue reading “Mengenang BUYA HAMKA dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”

Bokor Hutasuhut, “Penakluk Ujung Dunia”

Damiri Mahmud
harian.analisadaily.com

BOKOR Hutasuhut lahir di Balige, 2 juni 1934. Pernah Redaktur kebudayaan majalah Waktu, Medan. Sekretaris Yayasan Sastra (penerbit majalah Sastra). Sekretaris Jenderal KKPI (Konperensi Karyawan Pengarang Indonesia). Dia penanda tangan Manifes Kebudayaan. Novel-novelnya adalah Pantai Barat, Tanah Kesayangan dan Penakluk Ujung Dunia. Continue reading “Bokor Hutasuhut, “Penakluk Ujung Dunia””

Narasi Sufisme dan Estetika Lokal

Shofiyatuz Zahroh *

Home

Kisah tentang sufisme menjadi semacam virus dan anti klimaks. Perjalanan kesufian dari waktu-kewaktu ter-remajakan oleh intuisi yang memiliki akselerasi tinggi untuk mencapai dimensi rasa paling hakiki. Pesona sufisme mejadi semacam kegandrungan tersendiri kemudian bagi para ulama yang penyair, untuk menggemburkan narasi sufisme itu dalam sebuah ulasan singkat atau pun cerita pendek, sebagai langkah plastis untuk mentransvaluasi nilai transendensi yang tidak terjebak pada mistisisme dan absurdisme yang mengada-ada. Continue reading “Narasi Sufisme dan Estetika Lokal”

Menggeramkan “Cantik Itu Luka”

Bambang Kariyawan Ys
riaupos.co

Tulisan ini diawali ketika membaca berita bahwa novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan mendapat penghargaan internasional. Terbayang kembali pada tahun 2002 penulis pernah membaca novel ini ketika pertama kali terbit oleh Penerbit Jendela dan Akademi Kebudayaan Yogyakarta. Saat selesai membaca novel tersebut dan berdiskusi sesama pembaca terjadi pro kontra. Ada pembaca yang pencinta sastra mengatakan bahwa novel ini dahsyat. Namun ada pembaca lain yang mengatakan jangan membaca novel tersebut. Rusak pikiran kita, apalagi kalau anak-anak remaja yang membaca, bahaya! Mengapa dilarang dan berbahaya membacanya?! Pasti ada sesuatu. Continue reading “Menggeramkan “Cantik Itu Luka””

Bahasa »