Palestina dan Konflik Timur Tengah dalam Bingkai Sastra

Nurani Soyomukti *

Konflik dalam bentuk perang terbuka kembali di Timur Tengah setelah Israel melakukan serangan bertubi-tubi terhadap pejuang dan mujahidin di Palestina. Serangan juga meluas dan gemanya ke dunia internasional juga kian mengeras. Konflik yang berlangsung selama berabad-abad ini tak kunjung selesai karena bersifat dimensional dengan melibatkan sentimen keagamaan, ekonomi, kebudayaan, dan politik. Bagaimana reaksi terhadap konflik itu dalam ranah sastra? Continue reading “Palestina dan Konflik Timur Tengah dalam Bingkai Sastra”

Puisi, Penyair, dan Pelbagai Hambatannya

Alex R. Nainggolan *
Republika, 6 Juli 2014

Puisi terkadang gagal menemukan bentuknya di hadapan publik pembaca. Terutama dengan keseriusan para penyair untuk merajut makna yang di anggap aneh, bertolak belakang, atau mungkin tak dipahami oleh pembacanya. Maka, kita hanya dihadapkan pada sebuah asal-mula, yakni proses terbentuknya puisi itu sendiri.

Sebagai sebuah nalar yang melingkar, puisi menjadi niscaya mengambil bagian sebuah pu blik untuk intim, sekaligus menyeluruh, dengan tidak ingkar pada lingkungan sekitar. Continue reading “Puisi, Penyair, dan Pelbagai Hambatannya”

Gedung Kesenian Cak Besut

Sabrank Suparno

Saya membayangkan ada dialog antara almarhum Cak Besut dengan Cak Durasim. Bisa juga perbincangan dua tokoh maestro Ludruk itu benar-benar terjadi di alam kubur. Indikatornya apa? Jawabnya gampang, hingga membuat anda tidak tidur bermalam-malam. Apalagi ketika anda mengetahui analogi jawaban perbincangan dua maestro Ludruk ini sambil nyeruput kopi racikan Yu Darmani pengelola warung kopi nyentrik di pojok pintu masuk Desa Nglele Kecamatan Sumobito. Bukan sekedar rasa dan aroma kopinya yang cospleng, tapi di warung kopi Yu Darmani inilah seluruh teman penulis (seniman) baik lokal, regional, nasional, bahkan Miguel Fonsecca Horta seniman dari Portugis pernah saya ajak nyeruput kopi di warung ini. Continue reading “Gedung Kesenian Cak Besut”

SASTRA DAN KESESATAN

Agus Sulton

Karya sastra secara konvensi bagian seni, berarti karya muncul bagian dari hasil kegelisahan-responsif penulis terhadap kondisi sosial, dan “terkadang” bersifat menghibur. Ilmu sastra, bagian terpisah yang secara nyaman memperbincangkan surplus ragam tekstual kekaryaan dari berbagai aspek sudut pandang kajian. Karya sastra tampil menawarkan berbagai fenomena, isu sosial, kritik, agitasi, propaganda, dan sebagainya. Seringkali penulis pun subjektif memahami bangunan sosial untuk ditorehkan dalam dunia imajinasi, walaupun sesekali menyuguhkan kejadian yang dianggap benar terjadi. Continue reading “SASTRA DAN KESESATAN”

PUISI, EKSPRESI ESTETIK, DAN RUH BUDAYA JAWA TIMUR

I. B. Putera Manuaba *

Dalam Sayembara Penulisan Puisi Tahun 2015 ini, setelah melalui proses pendataan administratif pada Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), ada enam belas manuskrip kumpulan puisi yang kami terima, dan siap untuk diseleksi dan ditentukan pemenang terbaiknya. Juri Sayembara Penulisan Puisi terdiri atas Tjahjono Widarmanto, Nanang Suryadi, dan I. B. Putera Manuaba. Continue reading “PUISI, EKSPRESI ESTETIK, DAN RUH BUDAYA JAWA TIMUR”

Bahasa »