CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (7)

: Peran Gender, Ruang Domestik, dan Ruang Publik

Djoko Saryono

Salah satu konsekuensi logis yang penting dari integrasi kultural terhadap tradisi adalah penerimaan peran-peran gender perempuan yang sudah ditentukan secara turun-temurun oleh tradisi, sedangkan salah satu konsekuensi logis yang pen­ting dari resistensi kultural terhadap tradisi adalah penolakan peran-peran gender perempuan yang sudah ditetapkan oleh tradisi. Continue reading “CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (7)”

CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (6)

: Keterpelajaran, Ketradisionalan, dan Kemodernan Perempuan

Djoko Saryono

Keterpelajaran dan keterdidikan perempuan-perempuan golongan menengah dan menengah-atas tersebut membuat mereka tampak memiliki rasionalitas, kesadaran dan daya hidup mandiri, dan sikap kritis terhadap keadaan-kenyataan sekeliling mereka. Dengan modal tersebut, mereka tidak selalu menerima, apalagi mengintegrasikan diri ke dalam keadaan-kenyataan tradisi budaya sekeliling mereka. Continue reading “CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (6)”

Pantun Melayu: Keindahan dan Perlawanan

Seno Gumira Ajidarma *

Kanon keindahan adalah mitos, yang dilahirkan oleh suatu konotasi ideologis, yang dari waktu ke waktu telah terus-menerus disempurnakan, sehingga menjadi tonggak dalam sejarah sastra yang tidak bisa dihapuskan lagi—dengan suatu dampak sosial, bahwa bentuknya kemudian menjadi standar keindahan. Bagi para penulis yang telanjur beriman kepada suatu keyakinan atas standar tertentu, di dalam standar itulah terdapat ”substansi” atawa ”esensi” sastra, yang secara metaforik sering disebut sebagai ”roh”. Continue reading “Pantun Melayu: Keindahan dan Perlawanan”

CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (4)

: Genealogi Sosial

Djoko Saryono

Citra perempuan-perempuan Indonesia dari golongan menengah-atas juga terpan-car dan tampil di dalam teks novel-novel Indonesia. Perempuan-perempuan dari golongan menengah-atas ini adalah para perempuan yang mengenyam pendidikan relatif tinggi, secara ekonomis tidak berkekurangan, secara sosial-kultural relatif terpandang, dan secara genealogis memiliki garis keturunan dengan orang terpandang. Continue reading “CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (4)”

Bahasa »