Untukmu, Ras

Dian Purnama

Beranda

‘BIARKAN dia terus bersamaku,’ aku mengiba padamu. Tapi kau tetap diam. Kau terlalu angkuh untuk menjawab apa yang kuungkapkan. ‘Dengarkan aku, Ras! Dengar! Mengapa kau diam? Jangan pura-pura bodoh di depanku!’ demikian juga hardikku di tengah gelapnya malam.

Dan kau masih saja diam, Ras. Perempuan macam apa kau sebenarnya? Setankah kau ini, Ras? Tidakkah kau punya telinga untuk mendengar setiap ucap kata dan sumpah serapah yang kuhujam padamu? Atau jangan-jangan kau tak punya mulut? Kau hanya duduk bergelung di pojok ruangan sementara aku menghardikmu dengan segenap tenaga yang masih tersisa setelah perdebatan kecil kita tadi. Continue reading “Untukmu, Ras”

Aku, Asfin, Valent, dan Resta

Mariana Amiruddin
jawapos.com

”Sepertinya ada yang salah di mataku, sesuatu yang terselip…,” kata Asfin sambil berjalan di mall besar Jakarta dan menenteng beberapa pakaian. Bulu matanya tiba-tiba menjadi lentik melengkung ke atas. Aku meledeknya, ”Seperti artis Bollywood.” Lalu Asfin meronta-ronta karena ia paling tidak suka dibilang seperti orang India. Sementara Valent sibuk mengusap wajahnya yang berminyak dengan kertas penyerap minyak. Dan Resta dengan rambut pendeknya yang baru, diam saja sambil berjalan dengan kalung besar berbahan kayu melingkar di lehernya. Continue reading “Aku, Asfin, Valent, dan Resta”

Malam Saweran

AS Laksana
suaramerdeka.com

AKU sepakat bahwa laporan bersambung itu terasa mengada-ada. Setidak-tidaknya, ia terasa sebagai upaya berlebihan dari penulisnya untuk membuatmu putus asa mengikuti sepak terkam orang-orang yang gemar menyelinap di tengah malam. Wartawan itu memang menulis dalam gaya yang samar; ia menceritakan tabiat sejumlah orang tanpa menyodorkan petunjuk yang memungkinkanmu menerka siapa saja sesungguhnya yang sedang ia ceritakan dan di mana kejadiannya berlangsung. Continue reading “Malam Saweran”

Ayah dan Sepotong Bulan

Laila Awalia
http://www.lampungpost.com/

“Ibu, lihat itu! Bulan itu dipotong siapa?”

Tentu, Soraya menunjuk benda setengah lingkaran dengan tangan mungilnya ketika mendongakkan kepala di bawah langit malam yang remang-remang. Ketika itu, Ayah belum pulang, maka Soraya menarik tangan bunda untuk keluar, duduk berjajar menghadap taman. Berharap mata Soraya akan segera menangkap semburat cahaya kuning dari lampu depan mobil Ayah ketika memasuki halaman depan dengan menyuarakan klakson. Continue reading “Ayah dan Sepotong Bulan”

Yang Teramputasi

Gus Martin

Beranda

AKU punya rasa sesal amat sangat yang kini kupendam jauh di dasar hatiku. Kadang menyakitkan. Rasa sesal itu, bukan lantaran aku terlahir berbekal cacat dan keanehan yang dalam sepanjang perjalanan hidupku memberi kesempatan pada banyak orang untuk menolok-olokku, menghinaku, dan mentertawaiku. Rasa sesal itu, justru lantaran bagian tubuhku yang tak wajar itu kini sudah diamputasi dan dikremasi. Continue reading “Yang Teramputasi”

Bahasa ยป