Melacak Definisi Nilai Religiusitas dalam Sastra Pesantren

Sobih Adnan
nu.or.id

Lagi-lagi, saat membicarakan tentang apa dan bagaimana sastra pesantren sebenarnya?, Semuanya memang harus dikembalikan dan dibiarkan untuk berjalan dan berkembang secara dinamis, agar ruh utama dalam sastra yang bernilai kebebasan menemukan keleluasaaan di dalamnya. Namun lagi-lagi, jika berdasarkan tuntutan peta kesusasteraan dunia, sastra pesantren juga harus mampu menunjukkan terlebih lagi menjelaskan titik khas, originalitas, otentitas, sekaligus geneuinitas yang terdapat dalam dirinya sendiri. Continue reading “Melacak Definisi Nilai Religiusitas dalam Sastra Pesantren”

Sastra Profetik, Tradisi Melayu

Marhalim Zaini
riaupos.co

DUA tokoh sastra Indonesia yang agaknya identik dengan sebutan “sastra profetik” adalah Kuntowijoyo dan Abdul Hadi WM. Selain tampak dalam karya-karya mereka, sebuah tulisan Kunto berjudul “Maklumat Sastra Profetik (Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra)” dimuat majalah Horison, 2005, bisa menguatkan itu. Sementara Abdul Hadi WM, dapat kita baca dalam “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” (Jurnal Kebudayaan Ulumul Quran, Agustus, 1998). Ini telaah kritis Abdul ihwal perkembangan sastra di tahun 1970-an dan 1980-an, terkait kesadaran penulis untuk menjadikan “tradisi” sebagai “sumber” proses kreatif penciptaan mereka, terutama tentang semangat untuk kembali ke “puitika Timur.” Continue reading “Sastra Profetik, Tradisi Melayu”

TERSESAT DI JALAN YANG BENAR

Bagian 3 Tentang Wisran Hadi
Yusrizal KW
yusrizalkw.wordpress.com

Tiba-tiba, ketika baru sampai di Jakarta, Buya Haji Darwas Idris, ulama ahli hadist dan Imam Besar Masjid Raya Muhammadiyah Padang mendadak sakit. Padahal, niatnya bertolak dari Padang singgah di Jakarta kemudian rencananya menuju Ponorogo untuk memenuhi undangan panitia Muktamar Muhammadiyah / Majlis Tarjih di Ponorogo. Buya Darwas, begitu ia dikenal, akhirnya membatalkan niatnya ke Ponorogo. Acara penting bagi seorang ulama terkemuka Ranah Minang itu, dengan terpaksa tak bisa diikutinya. Ketika itu tahun 1969. Continue reading “TERSESAT DI JALAN YANG BENAR”

MELUKIS KATA MENJADI BERJIWA

Bagian 2 Tentang Wisran Hadi
Yusrizal KW
yusrizalkw.wordpress.com

Ketika tamat ASRI Yogyakarta tahun 1969, Wisran Hadi pulang ke Padang. Sebagaimana selama kuliah di Yogya, di Padang ia ingin tetap melukis. Tapi ia malah kecewa, sebab untuk membeli cat ketika itu, ia harus pergi ke Medan yang berjarak 400 km lebih dari Padang. Ini sangat menyulitkan, dan tentu mengganggu pikiran. Jelas, dalam soal biaya, termasuk harga cat dan ongkos ke Medan, dirasakan ketika itu sebagai suatu yang mustahil bisa diatasi. Continue reading “MELUKIS KATA MENJADI BERJIWA”

MENGGANGGU PIKIRAN DENGAN KATA

Bagian 1 tentang Wisran Hadi
Yusrizal KW
yusrizalkw.wordpress.com

Karena lebih banyak melahirkan”wisran hadi” naskah drama dibanding novel dan cerita pendek, ditambah lagi ia juga seorang sutradara teater, maka tak heran kalau Wisran Hadi lebih kental disebut sebagai salah seorang tokoh teater Indonesia. Di dalam kehidupan kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Minangkabau, Wisran Hadi adalah seorang seniman yang fenomenal. Continue reading “MENGGANGGU PIKIRAN DENGAN KATA”

Bahasa »