
Imammuddin SA Continue reading “Catatan Sementara untuk Selamanya: Sebuah Hakikat Hidup yang Fana”
Sastra NTT yang Berpijak di Bumi
Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 13 Des 2011
Artikel opini ini lahir setelah membaca sejumlah artikel opini sastra dari sejumlah penulis/pengarang NTT yang dimuat Pos Kupang (PK) beberapa tahun terakhir ini.
Sejumlah opini sastra itu, antara lain: Sastra NTT dan Politik Publikasi (Bara Pattyradja); Sastra NTT Tak Pernah Mati (Yoseph Lagadoni Herin); Sastrawan NTT di Manakah Kau? (Marsel Robot); Sastra NTT dan Upaya Membongkar Kuburan Pesimisme (Jimmy Meko Hayong); dan Membangkitkan Sastra NTT (Gusty Fahik). Continue reading “Sastra NTT yang Berpijak di Bumi”
Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (4 Habis)
(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli โ 2 Agustus 2009)
Mezra E.Pellondou *
Pos Kupang 13 Sep 2009
Sasando ke Seratus Tanpa Lada dan Timah
BEBERAPA sastrawan dipilih panitia untuk mengisi malam apresiasi, yakni Joni Ariadinata, Mezra E. Pellondou, Tan Lioe Ie, Ragil, Nur Wahida Idris, Irmansyah,Willy Siswanto dan lain- lain. Continue reading “Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (4 Habis)”
Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (3)
(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli โ 2 Agustus 2009)
Mezra E.Pellondou
Pos Kupang 6 Sep 2009
TANGGAL 30 Juli 2009, TSI (Temu Sastra Indonesia) II pun dibuka secara resmi oleh gubernur Kepulauan Bangka Belitung Eko Maulana Alli dengan meriah. Continue reading “Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (3)”
Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (2)
(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli โ 2 Agustus 2009)
Mezra E.Pellondou
Pos Kupang 30 Agu 2009
HATIKU sudah memastikan akan membidik dampak dari penambangan timah terhadap lingkungan. Sebelum tiba di Sungai Liat, mataku terpaku pada sebuah “sungai” yang luas dan lebar di Kecamatan Merawang. Eh, ternyata itu bukan sungai atau bukan sekadar sungai, namun cerukan tanah yang dipenuhi air tersebut disebut Kolong oleh masyarakat Bangka. Continue reading “Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (2)”
