Hasnan Bachtiar *
AKU harus terdiam di sini, di tengah kegalauan yang semakin memburu jiwa, terombang-ambing gelombang mimpi buruk yang menghantuiku. Entah mengapa aku selalu berpikir, “mengapa kehidupan itu kacau sekali”. Aku tak bisa menebaknya. Menebak masa depan terlalu sulit.
Resahku, sayup-sayup meneror telinga bayi-bayi yang kesepian. Seperti tega untuk menhunjamkan belati bertubi di jantung yang merah merekah. Pastinya, semburat darah hangat, begitu berat tak terelak. Continue reading “Gadis di Kereta”
