Novel Orang-Orang Bertopeng (15)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Pagi cerah. Salman terus menyusuri jalan kampung sambil sesekali meraba saku celananya yang berisi bungkusan plastik kecil dan amplop warna merah hati. Salman takut jika bungkusan plastik itu jatuh di jalan. Misinya bisa gagal total. Salman ingat betapa susah untuk mendapatkan bungkusan plastik serupa itu yang jika diminum akan membuat si peminum mendadak jatuh cinta, mabuk kepayang, meski sebelumnya benci setengah mati. Teman-temannya sudah banyak yang membuktikannya. Kini giliran Salman ingin membuktikan sendiri. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (15)”

PRASYARAT KEBERLANGSUNGAN APRESIASI SASTRA (9)

Djoko Saryono *

Apresiasi sastra tidak dapat berlangsung secara tiba-tiba dan serta-merta. Ada prasyarat-prasyarat yang menentukan dapat berlangsung tidaknya. Hal ini berarti ter-dapat unsur penentu yang menjadi conditio sine qua non untuk keberlangsungan apresiasi sastra. Tanpa unsur penentu ini mustahil apresiasi sastra dapat berlangsung. Unsur penentu yang dimaksud adalah (i) karya sastra, (ii) pengapresiasi sastra, dan (iii) kontak karya sastra dengan pengapresiasi sastra. Continue reading “PRASYARAT KEBERLANGSUNGAN APRESIASI SASTRA (9)”

PENYAIR MATJALUT DAN LAMPU-LAMPU JALAN YANG DIPADAMKAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan pada suatu senja, Penyair Matjalut meletakkan tubuh di atas kasur lembabnya. Tertidur. Tanpa mimpi, tapi mendengkur. Lalu bangun. Duduk tegun. Android tergeletak. Ada kertas berserak. Kopi, bukan arak. Sendiri. Dan rokok yang tinggal sejari. Sedang di luar rumah, udara kedinginan sekali. Orang-orang dengan tubuh yang terselimuti. Bayangan kereta malam hari. Dan perempuan yang menari. Menari-nari di tengah pandemi. Continue reading “PENYAIR MATJALUT DAN LAMPU-LAMPU JALAN YANG DIPADAMKAN”

Bahasa ยป