Kritik Sosial dalam Sajak F. Rahardi

Esrom Aritonang

Bagi penggemar dan pengamat karya sastra di Indonesia, khususnya bidang puisi, nama F. Rahardi bukan nama asing lagi. Penyair ini dikenal luas pertama kali melalui “Soempah WTS” (1983). Kemudian buku kumpulan puisi kedua menyusul berjudul “Catatan Harian Sang Koruptor” (1985). Pada saat kelahiran buku kumpulan puisi kedua inilah F. Rahardi menyatakan “Proklamasi Puisinya”. Continue reading “Kritik Sosial dalam Sajak F. Rahardi”

Para Penumpang Gelap

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 12 Jan 2014

SEBUTAN “penumpang gelap” sudah tidak lagi hanya milik dunia transportasi, tapi sudah menjadi “milik” banyak dunia. Dunia, yang dalam konteks sebuah ruang sosial—yang oleh teori Bourdieu—kerap disebut field (arena). Arena, tempat berbagai dialektika proses relasi sosial terjadi, yang terstruktur, untuk kemudian membentuk apa yang disebut habitus. Dunia politik, dunia ekonomi, dunia seni, dunia sastra, dunia puisi, tentu termasuk di dalamnya. Maka, sebutan “penumpang gelap” pun bisa cocok dipakai sebagai frasa simbolik yang mencerminkan salah satu gejala dialektika sosial yang terjadi. Continue reading “Para Penumpang Gelap”

7 Gerbang Cahaya, Sebuah Rumah Eksistensial

Matroni Musèrang *
Minggu Pagi, 2019/9/1

Senang sekali saya bisa membaca 7Gerbang Cahaya ini, di samping menambah cakrawala pengetahuan juga bisa silaturrahmi dengan guru. Membaca cerita 7Gerbang Cahaya yang berisi 15 cerita saya diajak untuk mengumpulkan kekayaan-kekayaan rohani dari peristiwa kehidupan yang serba fana dan sementara. Membaca 7Gerbang Cahaya memberikan tetes kesadaran bagi kita bahwa ternyata kita hidup di dunia membutuhkan guru untuk menemukan kunci gerbang cahaya itu. Continue reading “7 Gerbang Cahaya, Sebuah Rumah Eksistensial”

CINTA NARCISUS

Agusri Junaidi

Rasa sakit atau luka apa yang benar-benar bisa ku kenang tentangmu? Rasa sakit yang tak sampai membunuh, tetapi itu yang membentuk diriku sekarang.

Aku punya kecenderungan narsis. Narcissus, itulah diriku, yang melihat bayangannya di permukaan telaga, lalu mencintai bayangan itu. Lebih tepat untuk digambarkan, aku mencintai diriku sendiri, tak punya kemampuan mencintai orang lain lebih dari mencintai diri sendiri. Continue reading “CINTA NARCISUS”

Bahasa »