Sejumlah Konon di Rumah Loteng

Agus Dermawan T
Suara Pembaruan, 15 Juli 2007

Rumah itu terletak di pojok jalan yang sunyi. Sebuah rumah kuno berlantai dua yang dibangun pada zaman Belanda, dengan arsitektur bergaya Art Nouveau yang menyisakan pesona. Namun sebagus-bagusnya desain bangunan, temanku berkisah, para penghuni rumah loteng itu dalam setiap pergantian zaman selalu saja terkena musibah. Lantaran begitu seringnya, ihwal musibah ini menjadi bahan tutur-tinular bagi orang-orang di sekitarnya. Continue reading “Sejumlah Konon di Rumah Loteng”

Tukang Urut di Tepi Danau

Martin Aleida
Kompas, 27 Mei 2007

Sudah kusaksikan bagaimana Asikin dibunuh pensiunnya sendiri secara perlahan. Juga Asril. Beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun, mereka mulai berjuang melawan waswas dan perasaan tak berharga, disia-siakan. Perasaan yang terus menyiksa mereka sampai beberapa bulan setelah mereka sudah tidak lagi disambut dengan senang hati di kantor, kalau mereka singgah sekadar melepas rindu. Asikin mengalami gangguan pencernaan. Ambeiennya bertambah parah dan terjadi pendarahan. Setelah konsultasi dengan beberapa dokter, akhirnya dia jatuh ke tangan seorang ahli jantung yang mengirimkannya ke rumah sakit khusus untuk dibedah. Continue reading “Tukang Urut di Tepi Danau”

Catatan Perjalanan dan Tetangga di Sebelah Toko (VII)

Muhammad Yasir

Ini pagi yang ramai! Orang-orang senja usia, lelaki dan perempuan, tampak menguasai jalan utama gang tempat kami tinggal, di jantung Surabaya bagian Barat. Aku tertarik mengamati setiap gerak orang-orang senja usia ini, karena bukan sejengkal maut dari mata mereka yang terbatas itu yang menjadi soal, tetapi bagaimana cara mereka akan dimatikan Allah. Aku tidak memiliki keberanian untuk meremehkan mereka. Tentu saja, orang-orang senja usia adalah pemikir bisu yang hidup penuh dengan pertimbangan. Continue reading “Catatan Perjalanan dan Tetangga di Sebelah Toko (VII)”

Sepasang Mata untuk Perempuan

Salman Rusydie Anwar
Pikiran Rakyat, 30 Juni 2007

Untuk malam yang kesekian kalinya, Indrian kembali mengeluarkan alat-alat lukisnya dari sebuah kardus bekas yang sudah lapuk. Ditatapnya kanvas yang terpancang di hadapannya. Lukisan yang tak selesai selama dua malam. Dan malam itu, ia berniat menyelesaikan lukisannya. Sebuah sketsa wajah perempuan yang acak. Lalu dia mendengus pelan. Continue reading “Sepasang Mata untuk Perempuan”

Skandal Utang

Nugroho Sukmanto
Republika, 24 Juni 2007

Ujin orang pintar. Mungkin kelewat pintar, hingga sekarang menjadi buron. Ia sembunyi entah di mana, seperti juga Samsyul Nursalim, Samadikun Hartono dan Hendra Wijaya, yang santer diberitakan di surat kabar.

Mereka adalah bagian dari peserta “pesta BLBI” yang membuat miris setiap orang yang menatap jumlah yang telah dinikmati. Continue reading “Skandal Utang”

Bahasa ยป