(3) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri

Hudan Hidayat

Pengarang perempuan di facebook

Perempuan yang menulis sastra ini, mendapat bentuknya yang lain saat saya mengamati sebuah dunia maya yang lain yakni facebook. Entah karena sistemnya yang lebih bisa bersahut-sahutan, di sini saya saksikan intensitas penulisan sastra dan respon mereka yang masuk dalam pertemanan facebook-nya lebih cepat terjadi dan lebih semarak. Continue reading “(3) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri”

(1-2) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri

Hudan Hidayat

Yang Relijius Dan Yang Profan

Sikap terhadap kehidupan dalam kaitan hari “kini” dan hari akan “datang”, sudah sepantasnya kita kembalikan kepada hekekat pengertian yang relijius dan yang profan itu sendiri.

Sebab dalam anggapan umum yang profan selalu berkait dengan yang fana – tubuh. Yang profan mengerucut kepada yang duniawi: hidup yang melayari arah-arah iseng, atau arah-arah ringan, atau arah-arah berat dari tiap nilai yang bertolak-tolak dengan kitab suci. di mana jiwa pejalannya seakan dianggap sebentang layar putih yang keciprat najis, dan karena itu mencitra hadirnya diri yang negatif. Continue reading “(1-2) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri”

Kisah dengan Tokoh Fragmentaris oleh Agus Noor

Hudan Hidayat

BELAKANGAN ini, pada banyak kesempatan saya kerap mengutarakan kegelisahan seputar menghilangnya “tokoh” dalam cerpen kita. Dan saya yakin, bahwa tak banyak ditemukannya “tokoh-tokoh yang otentik” dalam cerpen terkini bukanlah semata persoalan keterbatasan ruang penceritaan. Ketika Sunaryono Basuki KS menegaskan bahwa characterless short story adalah tak mungkin, maka di sanalah sebenarnya persolan itu berada: bahwa yang jadi soal adalah ketiadaan “tokoh”, bukan ketiadaan pengembangan tokoh atau “penokohan”. Continue reading “Kisah dengan Tokoh Fragmentaris oleh Agus Noor”

KAFE DAN SALJU

Hudan Hidayat
http://www.infoanda.com/

Perjalanan Paris-Barcelona kami tempuh dengan kereta api. Kami berangkat malam hari dan sampai di kompartemen aku langsung tertidur. Aku terbangun ketika tidurku sudah cukup. Saat membuka gorden aku merasa seolah dalam peta buta. Kotakah itu? Atau desa? Gelap malam membuat benda di luar kereta jadi gundukan hitam, meski lampu jalanan berusaha menembusnya. Continue reading “KAFE DAN SALJU”

Bahasa ยป